Skip to main content

Pengambilan Keputusan (decision-making)

 Pengertian Pengambilan Keputusan
Keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan alternatif dari beberapa alternatif. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbuka dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindak lanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.
Menurut terry (syamsi,1995) pengabilan keputuusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih untuk memecahkan masalah yang dihadapi melalui pemilihan pemilihan satu dari laternatif-alternatif yang memungkinkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Siagian (dalam Syamsi, 1995) bahwa pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Shull, Delbecq dan Cummings (dalam Taylor, 1994) mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai suatu kesadaran dalam proses manusia, menyangkut individu dan fenomena sosial, berdasarkan hal-hal yang fakta dan aktual yang menghasilkan pilihan dari satu aktivitas perilaku yang berasal dari satu atau lebih pilihan.
Definisi di atas senada dengan pernyataan Morgan (1986) bahwa pengambilan keputusan merupakan salah satu jalan dari penyelesaian masalah dimana kita dihadapkan dengan berbagai pilihan yang harus kita pilih. Menurut Baron dan Byrne (2005) pengambilan keputusan merupakan tindakan menggabungkan dan mengintegrasikan informasi yang ada untuk memilih satu dari beberapa kemungkinan tindakan.
pengambilan keputusan merupakan proses mental di mana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data, baik oleh manajer secara individual maupun tim, dalam upaya mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya. Artinya bahwa dalam pengambilan keputsan memerlukan informasi awal  yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diputuskan.
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil tau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia, setiap proses pengambilan keputusan selalu mengahasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan[1].
Dari pengertian-pengertian tentang pengambilan keputusan di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah tindakan yang diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dengan memilih berbagai alternatif yang tersedia dengan penentuan yang matang dengan tujuan menyelesaikan suatu permasalahan.
Pengambilan keputusan sebagai suatu bentuk pemecahan mempunyai fungsi dan tujuan pengambilan keputusan tersebut:
Fungsi pengambilan keputusan:
a.       Pangkal permulaan dari semua aktifitas manusia yang sadar dan terarah
b.      Suatu yang bersifat futuristic artinya bersangkut paut dengan hari masa depan yang akan dating dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
Tujuan pengambilan keputusan
a.       Tujuan yang bersiat tunggal
Tujan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan tidak ada kaitan dengan maslah lain
b.      Tujuan bersifat ganda
Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah, artinya keputusan yang diambil itu sekaaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat kontradiktif atau yang tidak bersifat kontradiktif.
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan penilaian dan menjatuhkan pilihan.Keputusan ini diambil setelah melalui beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif.Sebelum pilihan dijatuhkan, ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik.

Proses Pengambilan Keputusan
1.      Identifikasi masalah
2.      Dalam hal ini pemimpin diharapkan mampu mengindentifikasikan masalah yang ada di dalam suatu organisasi.
3.      Pengumpulan dan penganalisis data
4.      Pemimpin diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.
5.      Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan

Langkah-Langkah dalam Menganalisis Masalah
1.      Menentukan tujuan yaitu menentukan target lebih dahulu tanpa mencampuradukkan apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin dilakukan
2.      Mengumpulkan fakta yaitu dengan mempelajari catatan-catatan yang relevan, peraturan dan kebiasaan yang berlaku, membicarakan dengan orang yang bersangkutan untuk mengetahui pendapatnya
3.      Mempertimbangkan fakta dan tentukan tindak lanjut yang harus diambil dengan menghubungkan fakta yang satu dengan yang lain.
4.      Mengambil tindakan dengan mempertimbangkan :
a.       Tentukan siapa yang harus mengambil tindakan.
b.      Pertimbangkan siapa yang perlu diberi informasi tentang keputusan yang akan diambil
c.       Menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan tindakan yang telah diputuskan.
Periksa hasil pelaksanaannya untuk mengetahui apakah tujuan tercapai dan pelajari
perubahan-perubahan sikap dan hubungan antar satu pihak dengan pihak lain

Mengidentifikasi Masalah dan Peluang
Dalam implementasi suatu sistem manajemen dalam organisasi, satu hal yang tidak dapat dihindari adalah timbulnya permasalahan. Adanya permasalahan dalam suatu organisasi tidak menandakan bahwa organisasi gagal dalam implementasi sistem manajemen. Masalah dapat timbul bahkan dalam organisasi yang sudah besar. Untuk menjamin bahwa organisasi dapat tetap berjalan dengan efektif danatau efisien, maka setiap permasalahan yang muncul perlu diselesaikan dan dicari solusinya.
Walaupun pengambilan keputusan sering digambarkan sebagai memilih diantara alternative, pandangan tersebut terlalu menyederhanakan. Mengapa ? Karena pembuatan keputusan adalah sebuah proses, bukan hanya tindakan sederhana memilih diantara  alternatif.[2]
Setiap keputusan diawali dengan masalah, yaitu perbedaan antara kondisi yang ada dan yang diinginkan. Bagaiman manager mengidentifikasi masalah? Dalam dunia nyata, sebagia besar “masalah” datang tanpa permisi terlebih dahulu. Manager juga harus berhati-hati agar tidak bingung antara masalah dan gejala masalah. Misal apakah penurunan penjualan sebesar 5% merupakan suatu masalah atau penurunan penjualan itu merupakan gejala dari masalah yang sebenarnya, seperti kualitas produk yang rendah, harga yang mahal atau iklan yang buruk ? juga ingatlah bahwa indentifikasi masalah bersifat objektif, artinya apa yang dianggap manager sebagai masalah mungkin tidak di anggap masalah oleh manager lainnya.[3]
Setelah manager mengidentifikasi masalah, juga harus mengidentifikasi kriteria keputusan yang penting dan relevan untuk memecahkan masalah. Setiap pembuat keputusan memiliki kriteria yang memandu keputusannya, walaupun tidak dinyatakan seca ekplisit. Jika kriteria yang relevan tidak sama arti pentingnya, pembuat keputusan keputusan harus memberikan bobot pada masing-masing kriteria agar dapat memberikan prioritas yang tepat dalam membuat keputusan. Dalam proses membuat keputusan mengaharuskan pembuat keputusan menyusun daftar alternative yang ada yang dapat memecahkan masalah. Ini merupakan langkah dimana pembuat harus kreatif. Setelah alternatif diidentifikasikan, pembuat keputusan harus menganalisis atau mengevaluasi setiap setiap kemungkinan, bagaimana? Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan dapat menunjukkan nilai yang diberikan dengan memilih alternatif yang terbaik. Sampai pada saat keputusan itu diterapkan ke dalam tindakan dengan memberlakuakan kepada mereka yang terpengaruh dan berkomitmen terhadapnya. Kita tahu bila orang yang harus mengimplementasikan sebuah keputusan berpartisipasi dalam proses, mereka lebih mungkin mendukung ketimbang bila anda hanya memberitahu kepada mereka apa yang harus dilakukan. Pada kahirnya semua keputusan yang sudah dinuat melibatkan evaluasi hasil untuk melihat apakah masalah sudah terpecahkan atau masih ada masalah.[4]

Berpikir Rasional
Para pemimpin  mengunggulkan pengambilan keputusan rasional oleh karena keputusan rasional mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi, dapat diakuntabilitaskan, dan dapat dijelaskan mengapa suatu keputusan diambil. Kita mengasumsikan bahwa pembuatan keputusan oleh para menager akan bersifat rasional yaitu kita mengasumsikan bahwa mereka akan membuat pilihan yang logis dan konsisten untuk memaksimalkan nilai.
Asumsi rasionalitas, pembuat keputusan yang rasional akan sangat objektif dan logis. Masalah yang dihadapi akan lebih jernih serta pembuat keputusan akan mempunyai tujuan yang jelas dan spesifik serta mengetahui semua alternatif yang mungkin dan konsekuensinya. Terakhir, pembuatan kepusan yang rasional akan secara konsisten pemilihan alteratif yang memaksimalkan kemungkinan tercapainya tujuan tersebut.[5]
Metode pengambilan keputusan rasional memang merupakan metode yang diunggulkan oleh berbagai pihak, namun hasil keputusan yang dihasilkan tidak selamanya benar dalam arti tidak dapat merubah situasi menjadi  lebih baik atau  memberikan benefit seperti yang diharapkan, bahkan terdapat keputusan yang merugikan. Ini dibuktikan dengan adanya organisasi yang merugi dan gulung tikar. Dengan alasan tersebut maka dapat diambil simpulan bahwa tidak selamanya pengambilan keputusan rasional membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ketidak berhasilan dalam pengambilan keputusan rasional tersebut disebabkan adanya pra kondisi yang tidak dapat dipenuhi.  Prakondisi tersebut adalah:
1.      analisis harus dilakukan oleh profesional.
2.      menggunakan metode analisis yang tepat
3.      didukung dengan data yang lengkap, akurat dan terkini, dan
4.       tersedia cukup waktu.
Pengambilan keputusan yang optimal bersifat rasional artinya, dia secara konsisten membuat pilihan yang memaksimalkan nilai dalam batas-batas tertentu. Pilihan-pilihan ini dibuat dengan mengikuti model pengambilan keputusan rasional., dari model terdapat asumsi-asumsi khusus yang mendasari model ini.

Ada Enam Langkah Pengambilan Keputusan Rasional :
Penetapan masalah,Masalah muncul bila terjadi kesenjangan masalah dewasa ini dan keadaan yang diinginkan. Begitu seorang pengambil keputusan menetapkan masalah, kemudian dia perlu mengidentifikasi kriteria keputusanyang penting dalam menyelesaikan masalah. Dalam langkah ini, pengambil keputusan menetapaan aapa yang relevan dalam pengambilan keputusan. Lagkah ini menyertakan minat, nilai dan pilihan-pilihan pribadi pengambil keputusan yang serupa itu ke dalam proses tersebut. Identifikasi kriteria itu penting karenaapa yang dianggap relevan oleh seseorang, mungkin tidak relevan bagi orang lain. Jarang semua kriteria yang teridentifikasi itu mempunyai arti penting yang sama. Oleh karena itu, langkah ketiga menuntut pengambil keputusan agar dapat mempertimbangkan kriteria yang sudah diidentifikasi sebelumnyamampu memberikan prioritas yang benar dalam keputusan.
Langkah keempat menuntut pengambil keputusan untuk menghasilkan alternatif-alternatif yang mungkinbisa berhasil menyesaikan masalah. Tidak perlu dibuat percobaan untuk melihat alternatif- alternatif ini, pengambil keputusan hanya perlu mendaftarnya. Begitu alternatif sudah dihasilan pengabil keputusan harus secara kritis menganaalisi daan mengevaluasi setiap alternatif tersebut. Hal itu dilakukan dengan memeringkatkan setiap alternatif berdasarkan masing-masing kriteria. Sehingga kekuatan dan kelemahan masing-masing alternative menjadi jelas ketika dibandingkan dengan kriteria dan bobot yang ditetapkan pada langkah kedua dan ketiga. Langkah terakhir adalah perhitungan keputusan optimal. Langkah ini dilakukan dengan mengevaluasi masing-masing alternative kriteria dan bobot yang sudah diberi bobot dan memilih alternative dengan skor total tertinggi.[6]
Model pengambilan keputusan rasional diatas berisi sejumlah asumsi-asumsi, secara singkat asumsi-asumsi tersebut adalah:
1.      Kejelasan masalah, masalah harus bersifat jelas dan tidak mendua. Pengambil keputusan diasumsikan memiliki informasi lengkap mengenai informasi keputusan.
2.      Pilihan-pilihan yang diketahui, diasumsikan bahwa pengambil keputusan dapat mengidentifikasi semua kriteria yang relevan daan dapat mendaftar semua alternative yang dapat dilihat dengan jelas. Lebih dari itu pengambil keputusan saadar akan konsekuensi dari dari setiap alternatif.
3.       Pilihan yang jelas, rasionalitas mengasumsikan bahwa kriteria dan laternatif dapat diperingkatkan dan timbang untuk mncerminkan arti pentingnya.
4.      Pilihan yang konstan, diasumsikan bahwa kriteria keputusan yang specific tersebut bersifat konstan dan bahwa bobot yang diberikan padaa kriteria tersebut.
5.      Tidak ada batasan waktu atau biaya, pengambil keputusan rasional dapat memperoleh informasi lengkap tentang kriteria dan alternative Karena diasumsikan bahwa tidak ada batasan atas waktu dan biaya.
6.      Hasil keputusan maksimum, pengambil kputusan rasional akan memilih alternative yang menghasilkan perepssi nilai tertinggi [7]

Berpikir Kreatif
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas, yakni kemampuan untuk memproduksi gagasan-gagasan baru yang bermanfaat. Mengapa kreativitas penting dalam pengamnilan keputusan? Kreativitas memungkinkan pengambil keputusan untuk lebih menyeluruh dalam menilai dan memahami masalah, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Akan tetapi jilai paling mencolok dalam dari kretivitas adalah perannya dalam membantu pengambl keputusan mengidentifikasi semua alternatif yang dapat dilihat.
Pengambilan keputusan kreatif Pendekatan tipe ini mencoba untuk memanfaatkan semua hal yang tersedia untuk membantu individu dalam pngambilan keputusan kreatif.
Sebagian besar orang memiliki potensi yang dapat mereka gunakan bila dihadapkan pada suatu masalah pengam bilan keputusan. Mengingat pada sebagian orang memiliki kreativitas padan tingkatan yang berbeda, apa yan daapat dilakukan individu dan organisasi untuk merangsang kreativitas karyawan? Jawaban terbaik untuk jawaban ini terletak dalam model kreativitas tiga komponen. Model ini mengemukakan bahwa kreativitas individual pada hakikatnya menuntut keahlian, keterampiloan berpikir kreatif dan motivasi tugas intrinsic. Penelian-penelitian mengukuhkan bahwa semakin tinggi tingkat masing-masing dari tiga komponen ini, maka semakin tinggi pula kretivitasnya.
Keahlian merupakan landasan bagi semua kerjaan kreatif. Potensi kreatif seseorang terdongkrak ketika individu-individu itu memiliki kemampuan, pengetahuan, kecakapan, dan keahlian mendasar itu di bdalam bidang usaha mereka.
Komponen kedua adalah keterampilan berpikir kreatif. Keterampilan itu meliputi karakteristik kepribadian yang dikaitkan dengan krativitas, kemampuan untuk menggunakan anlogi, sekaligus bakat untuk melihat hal yang umum dari sudut pandang yang berbeda. Ciri-ciri individu berikut terkait dengan pengembangan gagasan-gagasan kretif : inteligensia, kemerdekaan, kepercayaan diri, pengambilan resiko, toleransi terhadap ambiguitas, dan ketahanan dalam menghadapi frustasi. Penggunaan analogi kreativitas memungkinkan para pengambil keputusan untuk menerapkan ide darikonteks tertentu ke kontenks yang lain.
Komponen terakhir dari model ina adalah motivasi tugas intrinsik.Merupakan keinginan untuk mengerjakan apa saja Karena hal menarik, melibatkan, mengembirakan, memuaskan, atau secara pribadi menantang. Komponen motivasi inilah mengubah potensi kreativitas menjadi gagasan kreatif nyata. Komponen tersebut menentukan sejauh mana individu-individu menunjukan, mempertemukan keahlian dan keterampilan mereka. Oleh Karena itu orang kreatif sering mencintai pekerjaan mereka, menuju titik yang mendekati obsesi. Hal yang penting lingkungan individu dapat berdampak signifikn pada motivasi intrinsik. Ransangan-ransangan lingkunagn kerja terbukti mendorong kreativitas mencakup kebudayaan yang mendorong mengalirnya ide, pengakuan serta imbalan atas pekerjaan kreaatif, komunikasi, kepercayaan terhadaap yang lain, mendukung kelompok kerja, anggota kelompok kerja yang saling mendukung dan saling percaya.[8]

Perbedaan Kepentingan Individu dan Kelompok
Banyak faktor yang berpengaruh pada individu dan kelompok dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1.Faktor Internal Pribadi pengambil keputusan atau manajer: keadaan emosional  dan fisik, karakteristik, kultural, sosial, pengetahuan dll.
2.Faktor Eksternal Kondisi lingkungan dan waktu, nilai yang berpengaruh   seperti pernyataan masalah dan bagaimana cara mengevaluasi.

Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.

Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat  terjadi  antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok  buruh  dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.


Sumber :

[1] J Salusu,1996,pengambilan keputusan stratejik, Jakarta, hlm. 46
[2]Stephen p.robbins dan mary coulter, manajemen, edisi kesepuluh, jilid 1,Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, hlm.161
[3]Ibid, hlm. 161
[4]Stephen p.robbins dan mary coulter, manajemen, edisi kesepuluh, jilid 1,Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, hlm.163-164
[5] Ibid, hlm.166
[6]steven p robbins,perilakuorganisasibisniscetakan 1 2006 ,Pt.indeks, hlm. 181-182
[7] Ibid, hlm.182-183
[8] Ibid, hlm.183-185

Comments

Popular posts from this blog

kaidah Qawaid Fiqhiyyah : "Yang jadi patokan adalah maksud dan substansi, bukan redaksi ataupun penamaannya"

  Kaidah Fiqh اَلْعِبْرَةُبِالْمَقَاصِدِوَالْمُسَمِّيَاتِ لاَبِالْأَلْفَاظِ وَالتَسْمِيَاتِ “Yang jadi patokan adalah maksud dan substansi, bukan redaksi ataupun penamaannya.” Kaidah ini memberi pengertian bahwa yang jadi patokan adalah maksud hakiki dari kata-kata yang diucapkan atau perbuatan yang dilakukan bukan redaksi ataupun penamaan yang digunakan. Dan dari kaidah ini,bercabanglah satu kaidah lain yang melengkapinya, yang disebutkan dalam Jurnal Al-Ahkam Al-Adliyyah, yakni kaidah: اَلْعِبْرَةُ فىِ اْلعُقُوْدِ بِالْمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي “Yang dijadikan pegangan dalam transaksi (akad) adalah maksud dan pengertian bukan redaksi ataupun premis.” Makna Kaidah Dari kaidah ini dipahami bahwa saat transaksi dilangsungkan, yang menjadi patokan bukanlah redaksi yang digunakan kedua pihak yang melangsungkan transaksi, melainkan maksud hakiki mereka dari kata-kata yang diucapkan dalam transaksi tersebut. Sebab, maksud hakikinya adalah p...

faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi

faktor-faktor yang mempengaruhi   pertumbuhan dan pembangunan ekonomi 1)  Masalah tekanan penduduk, a. Adanya kelebihan penduduk atau kenaikan jumlah penduduk yang pesat, hal ini dikarenakan menurunnya tingkat kematian dan makin tingginya tingkat kelahiran. b. Besarnya jumlah anak-anak yang menjadi tanggungan orang tua, hal ini dikarenakan tingkat produksi yang relatif tetap dan rendah. c. Adanya pengangguran di desa-desa, hal ini dikarenakan luas tanah yang relatif sedikit jumlahnya dibanding penduduk yang bertempat tinggal di daerah tersebut. d. Kurangnya keterampilan dasar yang diperlukan agar penduduknya mudah menerima pembangunan. Hal ini dapat dicapai apabila beberapa pengetahuan dasar telah dimiliki penduduk dalam hal membaca dan menulis. 2) Sumber-sumber alam yang belum banyak diolah atau diusahakan sehingga masih bersifat potensial. Sumber-sumber alam ini belum dapat menjadi sumber-sumber yang rill karena kekurangan kapital, tenag...

kaidah qawaid fiqhiyyah :"Tidak sempurna akad Tabarru’ kecuali dengan penyerahan barang"

لاَ يَتِمُّ التَّبَرُّعُ إِلاَّ بِالقَبْضِ   “ Tidak sempurna akad Tabarru’ kecuali dengan penyerahan barang”  berbicara tentang kaidah ini maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu, yaitu : Pengertian Akad Akad adalah salah satu sebab dari yang ditetapkan syara’ yang karenanya timbullah beberapa hukum. Dengan memperhatikan takrit akad, dapatlah dikatakan bahwa akad itu adalah suatu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua orang berdasarkan persetujuan masing-masing. [1] Akad termasuk salah satu perbuatan hukum (tasharruf) dalam hukum Islam. Dalam terminology fiqih akad diartikan sebagai pertalian antara ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh terhadap objek perikatan. Sesuai kehendak syariat maksudnya bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sesuai dengan kehendak  syariat. [2] Rukun merupakan hal yang harus dipenuhi ...