Pengertian Pengambilan Keputusan
Keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu
hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan alternatif dari beberapa alternatif. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan
alternatif terbuka
dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindak lanjuti (digunakan)
sebagai suatu cara pemecahan masalah.
Menurut terry (syamsi,1995) pengabilan keputuusan adalah
pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih untuk memecahkan
masalah yang dihadapi melalui pemilihan pemilihan satu dari
laternatif-alternatif yang memungkinkan. Hal ini didukung oleh pernyataan
Siagian (dalam Syamsi, 1995) bahwa pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan sistematis terhadap suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data,
penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan tindakan
yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Shull, Delbecq dan Cummings (dalam Taylor, 1994)
mendefinisikan pengambilan keputusan sebagai suatu kesadaran dalam proses
manusia, menyangkut individu dan fenomena sosial, berdasarkan hal-hal yang
fakta dan aktual yang menghasilkan pilihan dari satu aktivitas perilaku yang
berasal dari satu atau lebih pilihan.
Definisi di atas senada dengan pernyataan Morgan (1986)
bahwa pengambilan keputusan merupakan salah satu jalan dari penyelesaian
masalah dimana kita dihadapkan dengan berbagai pilihan yang harus kita pilih.
Menurut Baron dan Byrne (2005) pengambilan keputusan merupakan tindakan
menggabungkan dan mengintegrasikan informasi yang ada untuk memilih satu dari
beberapa kemungkinan tindakan.
pengambilan keputusan merupakan proses mental di mana
seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya,
menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data,
baik oleh manajer secara individual maupun tim, dalam upaya mengatur dan
mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya. Artinya bahwa dalam
pengambilan keputsan memerlukan informasi awal yang berkaitan dengan
permasalahan yang akan diputuskan.
Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil
tau keluaran dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu
jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia, setiap proses
pengambilan keputusan selalu mengahasilkan satu pilihan final. Keputusan dibuat
untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan atau tindakan[1].
Dari pengertian-pengertian tentang pengambilan keputusan
di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah tindakan yang
diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dengan memilih berbagai
alternatif yang tersedia dengan penentuan yang matang dengan tujuan
menyelesaikan suatu permasalahan.
Pengambilan keputusan sebagai suatu bentuk pemecahan
mempunyai fungsi dan tujuan pengambilan keputusan tersebut:
Fungsi pengambilan keputusan:
a.
Pangkal permulaan
dari semua aktifitas manusia yang sadar dan terarah
b.
Suatu yang bersifat
futuristic artinya bersangkut paut dengan hari masa depan yang akan dating
dimana efeknya atau pengaruhnya berlangsung cukup lama.
Tujuan pengambilan keputusan
a.
Tujuan yang bersiat
tunggal
Tujan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi
apabila keputusan
yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan
tidak ada kaitan dengan maslah lain
b.
Tujuan bersifat
ganda
Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi
apabila keputusan yang dihasilkan menyangkut lebih dari satu masalah, artinya keputusan
yang diambil itu sekaaligus memecahkan dua (atau lebih) masalah yang bersifat
kontradiktif atau yang tidak bersifat kontradiktif.
Pengambilan keputusan (desicion making) adalah melakukan
penilaian dan menjatuhkan pilihan.Keputusan ini diambil setelah melalui
beberapa perhitungan dan pertimbangan alternatif.Sebelum pilihan dijatuhkan,
ada beberapa tahap yang mungkin akan dilalui oleh pembuat keputusan. Tahapan
tersebut bisa saja meliputi identifikasi masalah utama, menyusn alternatif yang
akan dipilih dan sampai pada pengambilan keputusan yang terbaik.
Proses Pengambilan Keputusan
1.
Identifikasi
masalah
2.
Dalam hal ini
pemimpin diharapkan mampu mengindentifikasikan masalah yang ada di dalam suatu organisasi.
3.
Pengumpulan dan
penganalisis data
4.
Pemimpin diharapkan
dapat mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat membantu memecahkan masalah
yang ada.
5.
Pembuatan
alternatif-alternatif kebijakan
Langkah-Langkah dalam Menganalisis Masalah
1.
Menentukan tujuan
yaitu menentukan target lebih dahulu tanpa mencampuradukkan apa yang ingin
dicapai dan apa yang ingin dilakukan
2.
Mengumpulkan fakta
yaitu dengan mempelajari catatan-catatan yang relevan, peraturan dan kebiasaan
yang berlaku, membicarakan dengan orang yang bersangkutan untuk mengetahui
pendapatnya
3.
Mempertimbangkan
fakta dan tentukan tindak lanjut yang harus diambil dengan menghubungkan fakta
yang satu dengan yang lain.
4.
Mengambil tindakan
dengan mempertimbangkan :
a.
Tentukan siapa yang
harus mengambil tindakan.
b.
Pertimbangkan siapa
yang perlu diberi informasi tentang keputusan yang akan diambil
c.
Menentukan waktu
yang tepat untuk melaksanakan tindakan yang telah diputuskan.
Periksa hasil pelaksanaannya untuk mengetahui apakah
tujuan tercapai dan pelajari
perubahan-perubahan sikap dan hubungan antar satu pihak dengan pihak lain
perubahan-perubahan sikap dan hubungan antar satu pihak dengan pihak lain
Mengidentifikasi Masalah dan Peluang
Dalam
implementasi suatu sistem manajemen dalam organisasi, satu hal yang tidak dapat
dihindari adalah timbulnya permasalahan. Adanya permasalahan dalam suatu
organisasi tidak menandakan bahwa organisasi gagal dalam implementasi sistem
manajemen. Masalah dapat timbul bahkan dalam organisasi yang sudah besar. Untuk
menjamin bahwa organisasi dapat tetap berjalan dengan efektif danatau efisien,
maka setiap permasalahan yang muncul perlu diselesaikan dan dicari solusinya.
Walaupun pengambilan keputusan sering digambarkan sebagai
memilih diantara alternative, pandangan tersebut terlalu menyederhanakan.
Mengapa ? Karena pembuatan keputusan adalah sebuah proses, bukan hanya tindakan
sederhana memilih diantara alternatif.[2]
Setiap keputusan diawali dengan masalah, yaitu perbedaan
antara kondisi yang ada dan yang diinginkan. Bagaiman manager mengidentifikasi
masalah? Dalam dunia nyata, sebagia besar “masalah” datang tanpa permisi
terlebih dahulu. Manager juga harus berhati-hati agar tidak bingung antara
masalah dan gejala masalah. Misal apakah penurunan penjualan sebesar 5%
merupakan suatu masalah atau penurunan penjualan itu merupakan gejala dari
masalah yang sebenarnya, seperti kualitas produk yang rendah, harga yang mahal
atau iklan yang buruk ? juga ingatlah bahwa indentifikasi masalah bersifat
objektif, artinya apa yang dianggap manager sebagai masalah mungkin tidak di
anggap masalah oleh manager lainnya.[3]
Setelah manager mengidentifikasi masalah, juga harus
mengidentifikasi kriteria keputusan yang penting dan relevan untuk memecahkan
masalah. Setiap pembuat keputusan memiliki kriteria yang memandu keputusannya,
walaupun tidak dinyatakan seca ekplisit. Jika kriteria yang relevan tidak sama
arti pentingnya, pembuat keputusan keputusan harus memberikan bobot pada
masing-masing kriteria agar dapat memberikan prioritas yang tepat dalam membuat
keputusan. Dalam proses membuat keputusan mengaharuskan pembuat keputusan
menyusun daftar alternative yang ada yang dapat memecahkan masalah. Ini
merupakan langkah dimana pembuat harus kreatif. Setelah alternatif
diidentifikasikan, pembuat keputusan harus menganalisis atau mengevaluasi setiap setiap kemungkinan, bagaimana? Dengan
menggunakan kriteria yang ditetapkan dapat menunjukkan nilai yang diberikan
dengan memilih alternatif yang terbaik. Sampai pada saat keputusan itu
diterapkan ke dalam tindakan dengan memberlakuakan kepada mereka yang
terpengaruh dan berkomitmen terhadapnya. Kita tahu bila orang yang harus
mengimplementasikan sebuah keputusan berpartisipasi dalam proses, mereka lebih
mungkin mendukung ketimbang bila anda hanya memberitahu kepada mereka apa yang
harus dilakukan. Pada kahirnya semua keputusan yang sudah dinuat melibatkan
evaluasi hasil untuk melihat apakah masalah sudah terpecahkan atau masih ada
masalah.[4]
Berpikir Rasional
Para pemimpin mengunggulkan pengambilan keputusan
rasional oleh karena keputusan rasional mempunyai tingkat keberhasilan yang
tinggi, dapat diakuntabilitaskan, dan dapat dijelaskan mengapa suatu keputusan
diambil. Kita mengasumsikan bahwa pembuatan keputusan oleh para menager akan
bersifat rasional yaitu kita mengasumsikan bahwa mereka akan membuat pilihan
yang logis dan konsisten untuk memaksimalkan nilai.
Asumsi rasionalitas, pembuat keputusan yang rasional akan
sangat objektif dan logis. Masalah yang dihadapi akan lebih jernih serta
pembuat keputusan akan mempunyai tujuan yang jelas dan spesifik serta
mengetahui semua alternatif yang mungkin dan konsekuensinya. Terakhir,
pembuatan kepusan yang rasional akan secara konsisten pemilihan alteratif yang
memaksimalkan kemungkinan tercapainya tujuan tersebut.[5]
Metode pengambilan keputusan rasional memang merupakan
metode yang diunggulkan oleh berbagai pihak, namun hasil keputusan yang
dihasilkan tidak selamanya benar dalam arti tidak dapat merubah situasi
menjadi lebih baik atau memberikan benefit seperti yang diharapkan,
bahkan terdapat keputusan yang merugikan. Ini dibuktikan dengan adanya
organisasi yang merugi dan gulung tikar. Dengan alasan tersebut maka dapat
diambil simpulan bahwa tidak selamanya pengambilan keputusan rasional
membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Ketidak berhasilan dalam pengambilan
keputusan rasional tersebut disebabkan adanya pra kondisi yang tidak dapat
dipenuhi. Prakondisi tersebut adalah:
1.
analisis harus
dilakukan oleh profesional.
2.
menggunakan metode
analisis yang tepat
3.
didukung dengan
data yang lengkap, akurat dan terkini, dan
4.
tersedia cukup waktu.
Pengambilan keputusan yang optimal bersifat rasional
artinya, dia secara konsisten membuat pilihan yang memaksimalkan nilai dalam
batas-batas tertentu. Pilihan-pilihan ini dibuat dengan mengikuti model
pengambilan keputusan rasional., dari model terdapat asumsi-asumsi khusus yang
mendasari model ini.
Ada Enam Langkah Pengambilan Keputusan Rasional :
Penetapan masalah,Masalah muncul bila terjadi kesenjangan masalah dewasa ini dan keadaan yang
diinginkan. Begitu seorang pengambil keputusan menetapkan masalah, kemudian dia
perlu mengidentifikasi kriteria keputusanyang penting dalam
menyelesaikan masalah. Dalam langkah ini, pengambil keputusan menetapaan aapa
yang relevan dalam pengambilan keputusan. Lagkah ini menyertakan minat, nilai
dan pilihan-pilihan pribadi pengambil keputusan yang serupa itu ke dalam proses
tersebut. Identifikasi kriteria itu penting karenaapa yang dianggap relevan
oleh seseorang, mungkin tidak relevan bagi orang lain. Jarang semua kriteria
yang teridentifikasi itu mempunyai arti penting yang sama. Oleh karena itu,
langkah ketiga menuntut pengambil keputusan agar dapat mempertimbangkan kriteria
yang sudah diidentifikasi sebelumnyamampu memberikan prioritas yang
benar dalam keputusan.
Langkah keempat menuntut pengambil keputusan untuk
menghasilkan alternatif-alternatif yang mungkinbisa berhasil
menyesaikan masalah. Tidak perlu dibuat percobaan untuk melihat alternatif-
alternatif ini, pengambil keputusan hanya perlu mendaftarnya. Begitu alternatif
sudah dihasilan pengabil keputusan harus secara kritis menganaalisi daan
mengevaluasi setiap alternatif tersebut. Hal itu dilakukan dengan memeringkatkan
setiap alternatif berdasarkan masing-masing kriteria. Sehingga kekuatan
dan kelemahan masing-masing alternative menjadi jelas ketika dibandingkan
dengan kriteria dan bobot yang ditetapkan pada langkah kedua dan ketiga.
Langkah terakhir adalah perhitungan keputusan optimal. Langkah
ini dilakukan dengan mengevaluasi masing-masing alternative kriteria dan bobot
yang sudah diberi bobot dan memilih alternative dengan skor total tertinggi.[6]
Model pengambilan keputusan rasional diatas berisi
sejumlah asumsi-asumsi, secara singkat asumsi-asumsi tersebut adalah:
1.
Kejelasan masalah,
masalah harus bersifat jelas dan tidak mendua. Pengambil keputusan diasumsikan
memiliki informasi lengkap mengenai informasi keputusan.
2.
Pilihan-pilihan
yang diketahui, diasumsikan bahwa pengambil keputusan dapat mengidentifikasi
semua kriteria yang relevan daan dapat mendaftar semua alternative yang dapat
dilihat dengan jelas. Lebih dari itu pengambil keputusan saadar akan
konsekuensi dari dari setiap alternatif.
3.
Pilihan yang jelas, rasionalitas mengasumsikan
bahwa kriteria dan laternatif dapat diperingkatkan dan timbang untuk
mncerminkan arti pentingnya.
4.
Pilihan yang
konstan, diasumsikan bahwa kriteria keputusan yang specific tersebut bersifat
konstan dan bahwa bobot yang diberikan padaa kriteria tersebut.
5.
Tidak ada batasan
waktu atau biaya, pengambil keputusan rasional dapat memperoleh informasi
lengkap tentang kriteria dan alternative Karena diasumsikan bahwa tidak ada
batasan atas waktu dan biaya.
6.
Hasil keputusan
maksimum, pengambil kputusan rasional akan memilih alternative yang
menghasilkan perepssi nilai tertinggi [7]
Berpikir Kreatif
Pengambilan keputusan rasional membutuhkan kreativitas, yakni
kemampuan untuk memproduksi gagasan-gagasan baru yang bermanfaat. Mengapa
kreativitas penting dalam pengamnilan keputusan? Kreativitas memungkinkan
pengambil keputusan untuk lebih menyeluruh dalam menilai dan memahami masalah,
termasuk melihat masalah-masalah yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Akan
tetapi jilai paling mencolok dalam dari kretivitas adalah perannya dalam
membantu pengambl keputusan mengidentifikasi semua alternatif yang dapat dilihat.
Pengambilan keputusan kreatif Pendekatan tipe ini mencoba
untuk memanfaatkan semua hal yang tersedia untuk membantu individu dalam
pngambilan keputusan kreatif.
Sebagian besar orang memiliki potensi yang dapat mereka
gunakan bila dihadapkan pada suatu masalah pengam bilan keputusan. Mengingat
pada sebagian orang memiliki kreativitas padan tingkatan yang berbeda, apa yan
daapat dilakukan individu dan organisasi untuk merangsang kreativitas karyawan?
Jawaban terbaik untuk jawaban ini terletak dalam model kreativitas tiga
komponen. Model ini mengemukakan bahwa kreativitas individual pada hakikatnya
menuntut keahlian, keterampiloan berpikir kreatif dan motivasi tugas intrinsic.
Penelian-penelitian mengukuhkan bahwa semakin tinggi tingkat masing-masing dari
tiga komponen ini, maka semakin tinggi pula kretivitasnya.
Keahlian merupakan landasan bagi semua kerjaan kreatif.
Potensi kreatif seseorang terdongkrak ketika individu-individu itu memiliki
kemampuan, pengetahuan, kecakapan, dan keahlian mendasar itu di bdalam bidang
usaha mereka.
Komponen kedua adalah keterampilan berpikir kreatif.
Keterampilan itu meliputi karakteristik kepribadian yang dikaitkan dengan
krativitas, kemampuan untuk menggunakan anlogi, sekaligus bakat untuk melihat
hal yang umum dari sudut pandang yang berbeda. Ciri-ciri individu berikut
terkait dengan pengembangan gagasan-gagasan kretif : inteligensia, kemerdekaan,
kepercayaan diri, pengambilan resiko, toleransi terhadap ambiguitas, dan
ketahanan dalam menghadapi frustasi. Penggunaan analogi kreativitas
memungkinkan para pengambil keputusan untuk menerapkan ide darikonteks tertentu
ke kontenks yang lain.
Komponen terakhir dari model ina adalah motivasi tugas
intrinsik.Merupakan keinginan untuk mengerjakan apa saja Karena hal menarik,
melibatkan, mengembirakan, memuaskan, atau secara pribadi menantang. Komponen
motivasi inilah mengubah potensi kreativitas menjadi gagasan kreatif nyata.
Komponen tersebut menentukan sejauh mana individu-individu menunjukan,
mempertemukan keahlian dan keterampilan mereka. Oleh Karena itu orang kreatif
sering mencintai pekerjaan mereka, menuju titik yang mendekati obsesi. Hal yang
penting lingkungan individu dapat berdampak signifikn pada motivasi intrinsik.
Ransangan-ransangan lingkunagn kerja terbukti mendorong kreativitas mencakup
kebudayaan yang mendorong mengalirnya ide, pengakuan serta imbalan atas
pekerjaan kreaatif, komunikasi, kepercayaan terhadaap yang lain, mendukung
kelompok kerja, anggota kelompok kerja yang saling mendukung dan saling
percaya.[8]
Perbedaan Kepentingan Individu dan Kelompok
Banyak faktor yang berpengaruh pada
individu dan kelompok dalam pengambilan keputusan, antara lain:
1.Faktor Internal Pribadi pengambil
keputusan atau manajer: keadaan emosional
dan fisik, karakteristik, kultural, sosial, pengetahuan dll.
2.Faktor Eksternal Kondisi lingkungan
dan waktu, nilai yang berpengaruh
seperti pernyataan masalah dan bagaimana cara mengevaluasi.
Perbedaan
kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar
belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan,
masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda.
Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang
berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal
pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan
budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan
tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai
penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha
kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang
dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian
dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada
perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga
akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan
kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan
budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan
individu, misalnya konflik antara kelompok
buruh dengan pengusaha yang
terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh
menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan
yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha
mereka.
Sumber :
[1] J Salusu,1996,pengambilan keputusan stratejik, Jakarta, hlm. 46
[2]Stephen p.robbins dan mary coulter, manajemen, edisi kesepuluh,
jilid 1,Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, hlm.161
[4]Stephen p.robbins dan mary coulter, manajemen, edisi kesepuluh,
jilid 1,Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, hlm.163-164
[5]
Ibid, hlm.166
[6]steven
p robbins,perilakuorganisasibisniscetakan 1 2006
,Pt.indeks, hlm. 181-182
[7]
Ibid, hlm.182-183
[8]
Ibid, hlm.183-185
Comments
Post a Comment