Skip to main content

Konflik Dalam Organisasi

Pengertian Konflik

Suatu konflik bisa berupa sekecil bentuk ketidak setujuan ataupun sebesar peperangan.Kata konflik menurut bahasa Yunani configere dan conflictm yang berarti saling berbenturan.Arti kata ini menunjuk pada semua bentuk benturan, tabrakan, ketidaksesuaian, ketidakserasian, pertentangan, perkelahian, oposisi, dan interaksi-interaksi yang antagonis bertentangan (Kartini Kartono, 1991: 213).
Banyak definisi tentang konflik yang diberikan oleh ahli manajemen.Hal ini tergantung pada sudut tinjauan yang digunakan dan persepsi para ahli tersebut tentang konflik dalam organisasi.Namun, di antara makna-makna yang berbeda itu nampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik dilatarbelakangi oleh adanya ketidakcocokan atau perbedaan dalam halnilai, tujuan, status, dan budaya.Definisi di bawah ini menunjukkan perbedaan-perbedaan dimaksud.
Soetopo & Supriyanto (2003) mendefinisikan konflik itu sebagai suatu keadaan dari seseorang atau sekelompok orang dalam suatu sistem sosial yang memiliki perbedaan dalam memandang suatu hal dan diwujudkan dalam perilaku yang tidak atau kurang sejalan dengan pihak lain yang terlibat di dalamnya ketika mencapai tujuan tertentu. Unsurnya meliputi: adanya pertentangan, adanya pihak yang berkonflik, adanya situasi dan proses, serta adanya tujuan dan kebutuhan.[1]
Selanjutnya, keberadaan konflik dalam organisasi, menurut Robbin (1996), ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok.Jika mereka tidak menyadari bahwa telah terjadi konflik di dalam organisasi, maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada.Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah terjadi konflik, maka konflik tersebut menjadi suatu kenyataan.
Pengertian konflik menurut Rue dan Byar disebutkan bahwa konflik adalah suatu kondisi perilaku yang tidak tersembunyi atau tidak disembunyikan dimana satu pihak ingin memenangkan kepentingannya sendiri diatas kepentingan pihak lain (Basalamah 2004, 275).
Berdasarkan uraian itu, dapat disimpulkan bahwa konflik adalah suatu pertentangan dan ketidaksesuaian kepentingan, tujuan, dan kebutuhan dalam situasi formal, sosial, dan psikologis, sehingga menjadi antagonis, ambivalen, dan emosional. Dengan demikian, unsur-unsur konflik terdiri atas[2]:
    1)      Adanya pertentangan, ketidaksesuaian, perbedaan
    2)      Adanya pihak-pihak yang berkonflik
    3)      Adanya situasi dan proses
    4)      Adanya tujuan, interes/kepentingan, kebutuhan
Konflik pada dasarnya merupakan suatu proses yang dimulai pada saat satu pihak merasa dibuat tidak senang oleh, atau adanya itikad akan berbuat tidak menyenangkan kepada pihak lain mengenai sesuatu yang dianggap oleh pihak pertama hal yang penting.Konflik merupakan suatu bentuk interaksi diantara beberapa pihak yang berbeda dalam kepentingan, persepsi dan tujuan.
Konflik merupakan sebuah situasi dimana dua orang atau lebih menginginkan tujuan-tujuan yang menurut persepsi mereka dapat dicapai oleh salah seorang diantara mereka, tetapi hal itu tidak mungkin dicapai oleh kedua belah pihak.  Konflik adalah perilaku anggota organisasi yang dicurahkan untuk beroposisi terhadap anggota yang lain, prosesnya dimulai jika satu pihak merasa bahwa pihak lain telah menghalangi atau akan menghalangi sesuatu yang ada kaitan dengan dirinya atau hanya jika ada kegiatan yang tidak cocok.
Di antara definisi yang berbeda itu nampak ada suatu kesepakatan, bahwa konflik dilatarbelakangi oleh adanya ketidakcocokan atau perbedaan dalam hal nilai, tujuan, status, dan lain sebagainya. Terlepas dari faktor yang melatarbelakangi terjadinya suatu konflik, gejala yang mengemuka dalam suatu organisasi saat terjadi konflik adalah saat individu atau kelompok menunjukkan sikap “bermusuhan” dengan individu atau kelompok lain yang berpengaruh terhadap kinerja dalam melakukan aktivitas organisasi.
Sedangkan Konflik Organisasi adalah perbedaan pendapat atau pertentangan antara dua atau lebih individu-individu atau kelompok-kelompok atau unit-unit kerja dalam  organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi sumber daya yang terbatas dalam aktivitas kerja dan kenyataan bahwa mereka memiliki tujuan, nilai, persepsi, dan interes yang berbeda.  Konflik dalam organisasi ditandai dengan ciri-ciri :
      a.       Terdapat perbedaan pendapat/pertentangan antara individu atau kelompok;
   b.  Terdapat perselisihan dalam mencapai tujuan disebabkan adanya perbedaan persepsi dalam menafsirkan program organisasi;         
      c.       Terdapat pertentangan norma dan nilai-nilai individu atau kelompok;
      d.      Adanya pertentangan sebagai akibat munculnya gagasan-gagasan baru dalam mencapai tujuan      organisasi secara efektif
      e.     Adanya sikap dan prilaku saling menghalangi pihak lain untuk memperoleh kemenangan dalam  memperebutkan sumber daya organisasi yang terbatas.
Namun ada hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa konflik itu sebenarnya wajar dan sudah  menjadi bagian yang tak terpisahkan dari organisasi, perlu diambil nilai positifnya  karena adanya konflik berarti menandakan adanya dinamika dalam organisasi  tersebut. Karena itu konflik tidak perlu ditakuti, sebuah konflik dapat  menimbulkan perubahan positif yang pada gilirannya dapat mendorong efektifnya  organisasi.  

 Proses Konflik
Konflik tidak terjadi seketika dan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui tahapan atau proses tertentu. Smith dkk. (1981) mengemukakan proses terjadinya konflik melalui tahap-tahap berikut:[3]
1)        Tahap antisipasi, yaitu merasakan munculnya gejala perubahan yang mencurigakan
2)   Tahap menyadari, yaitu perbedaan mulai diekspresikan dalam bentuk suasana yang tidak mengenakkan
3)        Tahap pembicaraan, yaitu pendapat-pendapat berbeda mulai muncul
4)        Tahap perdebatan terbuka, yaitu pendapat-pendapat berbeda kentara
5)    Tahap konflik terbuka, yaitu masing-masing pihak berusaha memaksakan pendirian kepada pihak lain


Selain itu, Filey (1976) juga menjeaskan proses terjadinya konflik sebagaimana bagan berikut:[4]
1.         Pertama adanya kondisi sebelumnya yang menyebabkan konflik, misalnya adanya peranan yang tidak jelas. Contoh: peranan kepala sekolah dan wakilnya saling bertubrukan
2.         Persepsi adanya konflik misalnya dalam kerja sehari-hari, antara kepala sekolah dan wakilnya menafsirkan peranannya yang berbeda
3.         Konflik dirasakan: antara kepala sekolah dan wakilnya merasa tugasnya saling diambil alih
4.         Perilaku: antara kepala sekolah dan wakilnya mulai cekcok tentang tugas yang harus dilaksanakan
5.         Penyesuaian konflik atau penekanan konflik yaitu pemecahan konflik dengan metode atau strategi tertentu
6.         Hasil penyelesaian: hasil yang diperoleh setelah konflik diselesaikan, misalnya apakah penyelesaian itu memperbaiki hubungan atau mengurangi komunikasi antara kepala sekolah dan wakilnya.

Sedangkan menurut Robbins (2003) konflik terjadi melalui lima tahapan yang masing-masing memiliki peran yang berbeda.[5] Keterkaitan kelima tahapan proses terjadinya konflik tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini:


Tahap 1: Oposisi atau ketidakcocokan potensial
Konflik akan terjadi apabila terdapat kondisi yang menciptakan kesempatan untuk konflik. Kondisi oposisi atau ketidakcocokan potensial bisa dimampatkan dalam tiga kategori, yaitu:
a)      Komunikasi
Adanya kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan kebisingan dalam saluran komunikasi merupakan alasan utama adanya konflik.Hasil riset memperlihatkan suatu penemuan yang mengejutkan; potensial untuk konflik meningkat bila atau terlalu banyak atau terlalu sedikit terjadi komunikasi.Jadi terlalu banyak maupun terlalu sedikit informasi dapat meletakkan pondasi atau konflik. 
b)      Struktur
Makna struktur dalam konteks ini mencakup variabel seperti ukuran, derajat spealisasi dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan Yurisdiksi, kecocokan anggota-tujuan, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok-kelompok. Hasil riset menunjukkan bahwa ukuran dan spealisasi bertindak sebagai kekuatan untuk kerangsang konflik.Makin besar ukuran kelompok dan makin terspesialisasi kegiatannya, makin besar kemungkinan terjadinya konflik.Masa kerja dan konflik berbanding terbalik.Potensial konflik cenderung paling besar terjadi pada kelompok yang lebih muda dan dimana tingkat keluar masuknya karyawan tinggi.
c)      Variabel pribadi
Merupakan sumber konflik potensial jika kita bekerja dengan orang yang sejak awal tidak kita sukai, misalnya suaranya, senyumnya, dan kepribadian yang menjengkelkan.Variabel pribadi ini mencakup sistem nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian yang menyebabkan idiosinkrasi dan perbedaan individual.

Tahap 2: Kognisi dan personalisasi
Jika kondisi-kondisi pada tahap pada tahap pertama mempengaruhi secara negatif sesuatu yang diperhatikan oleh satu pihak, maka oposisi dan ketidakcocokan menjadi teraktualkan dalam tahap kedua. Kondisi anteseden dapat mendorong ke arah konflik jika satu pihak atau lebih dipengaruhi oleh pihak lain dan sadar adanya konflik. Pada tahap ini ada dua hal pokok yang perlu dipahami, yaitu:
a)      Konflik yang dipersepsikan, merupakan kesadaran oleh satu pihak atau lebih akan eksistensi kondisi-kondisi yang menciptakan kesempatan untuk timbulnya konflik.
b)      Konflik yang dirasakan, merupakan pelibatan emosional dalam suatu konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, dan permusuhan.

Tahap 3: Maksud
Maksud merupakan keputusan-keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dalam suatu bagian konflik. Banyak sekali  konflik terjadi karena satu pihak menghubungkan maksud yang keliru kepada pihak lain. Banyak sekali terjadi ketidaksesuaian antara maksud dengan perilaku sehingga perilaku tidak selalu menggambarkan maksud seseorang.
a)      Bersaing, suatu hasrat untuk memenuhi kepentingannya sendiri, tidak peduli dampaknya terhadap pihak-pihak lain pada konflik itu.
b)      Berkolaborasi, suatu situasi di mana pihak-pihak pada suatu konflik masing-masing sangat berkeinginan untuk memuaskan sepenuhnya kepentingan dari semua pihak (saling menguntungkan)
c)      Menghindar,  yaitu mencoba sekedar mengabaikan suatu konflik dan menghindari orang-orang lain yang tidak sependapat dengannya.
d)     Mengakomodasi, yaitu suatu upaya untuk memuaskan seorang lawan dalam suatu konflik dengan menaruh kepentingan lawan di atas kepentingannya sendiri.
e)      Berkompromi, yaitu situasi di mana tiap-tiap pihak pada suatu konflik bersedia untuk melepaskan sesuatu.

Tahap 4: Perilaku
Pada tahap keempat (perilaku) konflik yang dirasakan akan tampak nyata. Tahap perilaku ini mencakup pernyataan, tindakan, dan reaksi yang dibuat oleh pihak-pihak yang berkonflik.Perilaku konflik biasanya terang-terangan berupaya untuk melaksanakan maksud-maksud setiap pihak.Tetapi perilaku-perilaku tersebut mempunyai suatu kualitas rangsangan yang terpisah dari maksud.Adanya salah perhitungan atau tindakan yang tidak terampil, kadangkala perilaku terang-terangan menyimpang dari maksud-maksud yang orisinal.

Tahap 5: Hasil
Hubungan antara pihak-pihak yang berkonflik akan menghasilkan konsekuensi-konsekuensi baik yang fungsional maupun disfungsional.
Konflik dinyatakan memiliki hasil fungsional apabila konflik itu dapat memperbaiki kualitas keputusan, merangsang kreativitas dan inovasi, mendorong perhatian dan keingintahuan dikalangan anggota kelompok, menyediakan saluran yang menjadi sarana masalah-masalah dapat disampaikan dan ketegangan dapat diredakan, dan memupuk suatu lingkungan evaluasi diri dan perubahan.
Suatu konflik dinyatakan memiliki hasil disfungsional apabila konflik yang terjadi menghambat komunikasi, pengurangan kepaduan kelompok, dan dikalahkannya tujuan kelompok terhadap keunggulan pertikaian antara anggota-anggota. Secara ekstrim konflik dapat menghentikan berfungsinya kelompok dan secara potensial mengancam kelangsungan hidup kelompok itu.

jika terjadi konflik didalam sebuah organisasi,tentu pasti ada juga cara bagaimana menyelesaikan konflik tersebut. cara tersebut dinamakan dengan NEGOSISI.

Sumber :


[1] Wildan Zulkarnain, Dinamika Kelompok, 2013, hlm. 129
[2]Hendyat Soetopo, Perilaku Organisasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010),  hlm.. 267
[3]Ibid., hlm. 275
[4]Hendyat Soetopo, loc. cit.
[5] Sentot Imam Wahjono, Perilaku Organisasi, 2010, hlm. 164

Comments

Popular posts from this blog

kaidah Qawaid Fiqhiyyah : "Yang jadi patokan adalah maksud dan substansi, bukan redaksi ataupun penamaannya"

  Kaidah Fiqh اَلْعِبْرَةُبِالْمَقَاصِدِوَالْمُسَمِّيَاتِ لاَبِالْأَلْفَاظِ وَالتَسْمِيَاتِ “Yang jadi patokan adalah maksud dan substansi, bukan redaksi ataupun penamaannya.” Kaidah ini memberi pengertian bahwa yang jadi patokan adalah maksud hakiki dari kata-kata yang diucapkan atau perbuatan yang dilakukan bukan redaksi ataupun penamaan yang digunakan. Dan dari kaidah ini,bercabanglah satu kaidah lain yang melengkapinya, yang disebutkan dalam Jurnal Al-Ahkam Al-Adliyyah, yakni kaidah: اَلْعِبْرَةُ فىِ اْلعُقُوْدِ بِالْمَقَاصِدِ وَالْمَعَانِي لَا بِالْأَلْفَاظِ وَالْمَبَانِي “Yang dijadikan pegangan dalam transaksi (akad) adalah maksud dan pengertian bukan redaksi ataupun premis.” Makna Kaidah Dari kaidah ini dipahami bahwa saat transaksi dilangsungkan, yang menjadi patokan bukanlah redaksi yang digunakan kedua pihak yang melangsungkan transaksi, melainkan maksud hakiki mereka dari kata-kata yang diucapkan dalam transaksi tersebut. Sebab, maksud hakikinya adalah p...

faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi

faktor-faktor yang mempengaruhi   pertumbuhan dan pembangunan ekonomi 1)  Masalah tekanan penduduk, a. Adanya kelebihan penduduk atau kenaikan jumlah penduduk yang pesat, hal ini dikarenakan menurunnya tingkat kematian dan makin tingginya tingkat kelahiran. b. Besarnya jumlah anak-anak yang menjadi tanggungan orang tua, hal ini dikarenakan tingkat produksi yang relatif tetap dan rendah. c. Adanya pengangguran di desa-desa, hal ini dikarenakan luas tanah yang relatif sedikit jumlahnya dibanding penduduk yang bertempat tinggal di daerah tersebut. d. Kurangnya keterampilan dasar yang diperlukan agar penduduknya mudah menerima pembangunan. Hal ini dapat dicapai apabila beberapa pengetahuan dasar telah dimiliki penduduk dalam hal membaca dan menulis. 2) Sumber-sumber alam yang belum banyak diolah atau diusahakan sehingga masih bersifat potensial. Sumber-sumber alam ini belum dapat menjadi sumber-sumber yang rill karena kekurangan kapital, tenag...

kaidah qawaid fiqhiyyah :"Tidak sempurna akad Tabarru’ kecuali dengan penyerahan barang"

لاَ يَتِمُّ التَّبَرُّعُ إِلاَّ بِالقَبْضِ   “ Tidak sempurna akad Tabarru’ kecuali dengan penyerahan barang”  berbicara tentang kaidah ini maka penulis akan menjelaskan terlebih dahulu, yaitu : Pengertian Akad Akad adalah salah satu sebab dari yang ditetapkan syara’ yang karenanya timbullah beberapa hukum. Dengan memperhatikan takrit akad, dapatlah dikatakan bahwa akad itu adalah suatu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua orang berdasarkan persetujuan masing-masing. [1] Akad termasuk salah satu perbuatan hukum (tasharruf) dalam hukum Islam. Dalam terminology fiqih akad diartikan sebagai pertalian antara ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh terhadap objek perikatan. Sesuai kehendak syariat maksudnya bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sesuai dengan kehendak  syariat. [2] Rukun merupakan hal yang harus dipenuhi ...