Pengertian
Kepemimpinan
Kepemimpinan
kadangkala diartikan sebagai pelaksanaan otoritas dan pembuatan keputusan.[1]
Ada juga yang mengartikan suatu inisiatif untuk bertindak yang menghasilkan
suatu pola yang konsisten dalam rangka mencari jalan pemecahan dari suatu
persoalan bersama.[2]
Lebih jauh lagi George R. Terry
merumuskan bahwa kepemimpinan itu adalah aktivitas untuk mempengaruhi
orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi.[3]
Dalam pengertian yang luas kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi
perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan
maupun kelompok.
Kepemimpinan (leadership) mempunyai arti
yang berbeda pada orang-orang yang berbeda. Beberapa defenisi yang dianggap
cukup mewakili selam seperempat abad tentang kepemimpinan adalah:[4]
1.
Kepemimpinan adalah
perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok
ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (share goal) (Hemhill dan Coon,
1997:7).
2.
Kepemimpinan adalah
pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam situasi tertentu, serta diarahkan
melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa tujuan
tertentu. (Tannenbaum, Wesehler dan Massarik, 1961:24).
3.
Kepemimpinan adalah
pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi. (Stogdill,
1974:411).
4.
Kepemimpinan adalah
peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada dan berada diatas kepatuhan mekanis
terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi. (Katz dan Kahn, 1978:528).
Ada istilah yang
mengatakan bahwa leadership is a process not position, yaitu
kepemimpinan itu bukan semata-mata sebuah posisi yang diberi, tetapi posisi
pemimpin adalah proses kerja dengan mengarahkan segala kemampuan. Seorang
pemimpin tidak hanya dituntut cakap dalam teori bagaimana menggerakkan,
mengarahkan dan mendekatkan cita-cita menjadi kenyataan dengan didukung
fasilitas baik berupa pengetahuan dan sumber daya manusia, teknologi, tetapi
seorang pemimpin harus memiliki seni memimpin, kemampuan dan talenta untuk
mengola situasi sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Hughes Ginnet dan
Curphy mengatakan bahwa, “kepemimpinan yang memiliki ilmu pengetahuan tak
ada jaminan ia bisa memimpin, sebaliknya pemimpin yang sukses tidak harus
selalu belajar ilmu kepemimpinan”.
Seorang pemimpin
yang baik bukanlah komandan yang selalu mengatur, membentak dan selalu menyuruh
pada bawahannya, melainkan bisa mempengaruhi orang lain dan bisa berkomunikasi
melalui perasaan, serta mampu menanamkan nilai-nilai kepada anak buahnya.[5]
Dalam organisasi yang maju seorang pemimpin tidak mungkin bekerja sendiri
melainkan dibantu oleh team. Untuk menggerakkan team ini pemimpin perlu
mengetahui cara bagaimana menggerakkan banyak kemauan menjadi satu tujuan yang
mengarah pada tujuan organisasi. Pada suatu waktu keahlian pemimpin dianggap sebagai
suatu bawaan sejak lahir. Pemimpin dilahirkan, bukan diciptakan, ini yang
disebut teori “great man”. Tapi pada kenyataan lain ketika teori ini
gagal menerangkan kepemimpinan, teori ini digantikan dengan teori “big bang”
yang berpandangan bahwa peristiwa besar membuat orang menjadi pemimpin.[6]
Sumber :
[1] Robert Dubin, Human Relation in Administration, the sociology of
organization, with reading and cases, New York, Prentice Hall-Book Company,
1951, seperti yang dikutip oleh Fred E. Fiedler. A. Theory of Leadership
Effective-ness, New York, McGraw-Hill Book Company, 1967, hlm. 7.
[2]
J.K. Hemphill, “A. Proposed Theory of
Leadership of Small Group” Second Preliminary Report, Columbus,
Ohio, Personnel Research Board, Ohio State University, 1954.
[3]
George R. Terry, Principle of Management, 3 rd edt. Homewood, Illinois,
Record D. Irwin, Inc, 1960, hlm. 493.
[4]
Yuki, Gary, alih bahasa Yusuf Udaya, Kepemimpinan Dalam Organisasi, (Jakarta:
Victory Jaya Abadi, 1994), hlm. 2.
[6]
Warren Bennis dan Burt Nanus, Kepemimpinan: Strategi dalam Mengemban
Tanggungjawab (Jakarta: Erlangga, 1990).
Comments
Post a Comment