Nama lengkapnya
Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ghazali ath-Thusi, biasa dipanggil
Abu Hamid, gelarnya Hujjatul Islam dan Zainuddin.[1] Di Lahirkan di Thabrani
sebuah desa di Thusi Khurasan, Iran pada tahun 450 H (1058 M). Dia seorang yang
yang sangat cerdas, teliti, sempurna jasadnya, istimewa pendapatnya, kuat
hafalannya dan menguasai makna-makna yang mendalam. Sejak kecil, Imam
Al-Gahzali hidup dalam dunia tasawuf. Ia tumbuh dan berkembang dalam asuhan
seorang sufi, setelah ayahnya juga seorang sufi meninggal dunia.
Imam Al-Ghazali merupakan seorang pemikir Islam yang
banyakmenguasai bidang keilmuan, baik
ilmu filsafat, ilmu sufisme, ilmu fiqih, dan ilmu-ilmulainnya. Beliau
mulai menulis tentang filosofiekonomi pada abad 11 dan 12, jauh
sebelummunculnya ide Merkantilisme yang baru muncul enam abad setelahnya,
maupun sebelum kemunculan ide pemikiran ekonomi fisiokrasi Adam Smith tujuh
abad sesudahnya, yang dianggap oleh kalangan ekonomkonvensional sebagai tahun
kelahiran disiplin ilmu ekonomi.[2]
Sejak muda Al-Ghazali sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan. Ia
pertama-tama belajar bahasa Arab dan fiqih di kota Tus, kemudian pergi ke kota
Jurjan untuk belajar dasar-dasar ushul fiqh. Setelah kembali ke kota Tus selama
beberapa waktu, ia pergi ke Naisabur untuk belajar kepada Imam Al-Haramaini Abu
Al-Ma’ali Al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat.
Setelah itu, ia berkunjung ke kota Baghdad, ibu kota Daulah
Abbasiyah dan bertemu dengan Wazir Nizham Al-Mulk. Darinya, Al-Ghazali mendapat
penghormatan dan penghargaan yang besar. Pada tahun 483 H (1090 M), ia diangkat
menjadi guru di Madrasah Nizhamiyah. Pekerjaannya ini dilaksanakan dengan
sangat berhasil, sehingga para ilmuwan pada masa itu menjadikannya sebagai
referensi utama.
Pada tahun 488 H (1095 M), Al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan
pergi menuju ke Syria untuk merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih 2
tahun. Kemudian, ia pindah ke Palestina untuk melakukan aktivitas yang sama
dengan mengambil tempat di Baitul Maqdis. Setelah menunaikan ibadah haji dan
menetap beberapa waktu di kota Iskandariah, Mesir, Al-Ghazali kembali ke tempat
kelahirannya, Tus, pada tahun 499 H (1105 M) untuk melanjutkan aktivitasnya,
berkhalwat dan beribadah. Proses pengasingannya tersebut berlangsung selama 12
tahun dan selama masa ini banyak menghasilkan berbagai karyanya yang terkenal,
seperti Kita Ihya ‘Ulum al-Din.
Pada tahun yang sama, atas desakan penguasa pada masa itu, yaitu
wazir Fakhr Al-Mulk, Al-Ghazali kembali mengajar di Madrasah Nizhamiyah di
Naisabur. Namun, pekerjaannya itu hanya berlangsung selama 2 tahun. Ia kembali
lagi ke kota Tus untuk mendirikan sebuah madrasah bagi para fukaha dan
mutashawwifin. Al-Gahazali memilih kota ini sebagai tempat mengahbiskan waktu
dan energinya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, hingga meninggal dunia pada
tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H atau 19 Desember 1111 M.
Comments
Post a Comment