Pengangguran
Dalam Konsep Islam
Islam telah
memperingatkan agar umatnya jangan sampai ada yang menganggur dan
terpeleset kejurang kemiskinan, karena ditakutkan dengan kemiskinan tersebut
seseorang akan berbuat apa saja termasuk yang merugikan orang lain demi
terpenuhinya kebutuhan pribadinya, ada sebuah hadist yang mengatakan “
kemiskinan akan mendekatkan kepada kekufuran. Namun kenyataannya, tingkat
pengangguran di negara – negara yang mayoritas berpenduduk muslim relatif
tinggi. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang buruknya pengangguran, baik
bagi individu, masyarakat ataupun negara, akan meningkatkan motivasi
untuk bekerja lebih serius. Walaupun Allah telah berjanji akan menaggung rizqi
kita semua, namun hal itu bukan berarti tanpa ada persyaratan yang perlu untuk
dipenuhi. Syarat yang paling utama adalah kita harus berusaha untuk mencari
rizqi yang dijanjikan itu, karena Allah SWT telah menciptakan
“sistem” yaitu siapa yang bekerja maka dialah yang akan mendapatkan
rizqi dan barang siapa yang berpangku tangan maka dia akan
kehilangan rizqi.Artinya, ada suatu proses yang harus dilalui untuk mendapatkan
rizqi tersebut.
Oleh karena itu semua potensi yang ada
harus dapat dimanfaatkan untuk mencari, menciptakan dan menekuni pekerjaan.
Muhammad Al Bahi, sebagaimana yang telah dikutip oleh Mursi (1997:34)
mengatakan bahwa ada tiga unsur penting untuk menciptakan kehidupan yang positif
dan produktif, yaitu:
ü Mendayagunakan
seluruh potensi yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita untuk bekerja,
melaksanakan gagasan dan memproduksi.
ü Bertawakal
kepada Allah, berlindung dan memeinta pertolongan kepada-Nya ketika melakukan
suatu pekerjaan.
ü Percaya
kepada Allah bahwa Dia mampu menolak bahaya, kesombingan dan kediktatoran yang
memasuki lapangan pekerjaan.
Bermalas-malasan atau menganggur akan
memberikan dampak negatif langsung kepada pelakunya serta akan mendatangkan
dampak tidak langsung terhadap perekonomian secara keseluruhan. Dari kacamata
makro, pengangguran akan menyebabkan tidak optimalnya tingkat pertumbuhan
ekonomi akibat sebagian potensi dari faktor produksi tidak dimanfaatkan.
Kelompok pengangguran akan menggantungkan hidupnya pada orang – orang yang
bekerja sehinggan tingkat ketergantungan akan menjadi tinggi sedangkan tingkat
pendapatan perkapita akan merosot.
Untuk menghindari dampak tersebut, maka
sumberdaya yang ada harus dimanfaatkan untuk melakukan suatu usaha walaupun
jumlahnya terbatas.Bekerja, walaupun dengan pekerjaan yang menggunakan tenaga
kasar dan termasuk pada pekerjaan sektor informal, tidak menjadi
halangan karena hal itu lebih terhormat daripada meminta-minta.
Dalam kaitannya dengan bidang pekerjaan
yang harus dipilih, Islam mendorong umatnya untuk berproduksi dan menekuni
aktivitas ekonomi dalm segala bentuk seperti: pertanian, pengembalaan,
berburu,industri , perdagangan dan lain-lain. Islam tidak semata-mata hanya
memerintahkan untuk bekerja tetapi harus bekerja dengan lebih baik (insan),
penuh ketekunan dan profesional. Ihsan dalam bekerja bukanlah suatu perkara
yang sepele tetapi merupakan suatu kewajiban agama yang harus dipatuhi oleh
setiap muslim. “ Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan
pekerjaan yang dilakukan secara itqan (profesional)” (HR.Baihaqi).
Menurut Qardhawi (2005:6-18)
pengangguran dapat dibagi menjadi dua kelompokkan, yaitu:
1. Pengangguran
jabariyah (terpaksa)
Pengangguran dimana seorang tidak
memppunyai hak sedikitpun memilih status ini , dan terpaksa menerimanya.
Pengangguran seperti ini biasanya karena seseorang yang tidak mempunyai
ketrampilan sedikitpun, yang sebenarnya bisa digali dan diperdalam sejak kecil.
Atau dia mempunyai ketrampilan tapi tidak berguna seiring berubahnya lingkungan
dan zaman. Atau dia sudah memiliki ketrampilan akan tetapi dia tidak dapat
memanfaatkan karena kurangnya alat atau modal yang dibutuhkan. Contoh ada
seorang yang ahli dalam bertani tapi dia tidak mempunyai alat untuk membajak
ataupun sepetak lahan untuk dia garap.
2. Pengangguran
khiyariyah
Seseorang yang memilih untuk
menganggur padahal dia pada dasarnya adalah orang yang mampu untuk bekerja,
namun pada kenyataanya dia memilih untuk berpangku tangan dan bermalas-malasan
hingga menjadi beban bagi orang lain. Dia memilih hancur dengan potensi yang
dimilki dibandingkan menggunakannya untuk bekerja . Dia tidak pernah
mengusahakan suatu pekerjaan dan mempunyai pribadi yang lemah hingga menjadi “
sampah masyarakat”.
Adanya pembagian kedua kelompok ini
mempunyai kaitan erat dengan solusi yang ditawarkan islam untuk mengatasi suatu
pengangguran. Kelompok pengangguran jabariyah perlu mendapatkan perhatian dari
pemeintah agar mereka dapat bekerja. Sebaliknya, Islam tidak
mengalokasikan dana dan bantuan untuk pengangguran khiyariyah karena
pada prinsipnya mereka memang tidak memerlukan bantuan karena pada dasarnya
mereka mampu untuk bekerja hanya saja mereka malas untuk memanfaatkan
potensinya dan lebih memilih menjadi beban bagi orang lain.
Pengangguran
dikelompokkan menjadi dua di atas berkaitan dengan solusi yang ditawarkan islam
dalam mengatasi pengangguran. Untuk pengangguran jabariyah perlu bantuan
pemerintah untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki dengan bantuan yang
mereka butuhkan. Bantuan tersebut bukan sekedar uang atau bahan makanan yang
akan habis, tetapi alat-alat yang mereka butuhkan . jika dengan pengangguran
khiyariyah mereka tidak seharusnya mendapat bantuan materi tetapi motivasi agar
mereka bisa memfungsikan potensi yang mereka miliki. Islam membenci,
pengangguran seperti yang disampaikan oleh seorang sahabat Nabi saw, Ibnu Masud
ra : “sesugguhnya aku benci kepada seseorang yang menganggur tidak berkerja
untuk kepentingan dunia juga tidak untuk keuntungan akhirat” (HR Thabarani
dalam kitab Al Kabir) dan Nabi sangat mengahargai seorang muslim yang sanggup
mandiri, yang hidup dengan hasil usahanya sendiri. Nabi bersabda yang artinya: “Tidak ada usaha yang paling baik kecuali
usaha dari tangannya sendiri, dan suatu yang di nafkahkan buat dirinya,
keluarganya,pembantunya adalah sedekah” (Matan lain : Bukhari 1930, Ahmad
16550-16560) .
Islam
mendorong pemeluknya untuk berproduksi dan menekuni ekonomi dalam segala bentuk
seperti pertanaian, peternakan, industry berdagang dan lain sebagainya. Islam
tidak semata-mata memerintahkan untuk berkerja, tetapi berkerja harus dengan
baik (ihsan) penuh dengan ketlatenan dan professional. Baik (ihsan) dalam berekrja merupakan suatu kewajiban yang wajib
dilakukan oleh setiap muslim. Nah pengertian dari produksi itu sendiri adalah
menciptakan manfaat dan bukan menciptakan materi. Maksudnya adalah bahwa
manusia mengolah materi itu untuk mencukupi berbagai kebutuhannya, sehingga
materi itu mempunyai kemanfaatan. Hadist tersebut juga menerangkan bahwa tujuan
produksi adalah menciptakan kemaslahatan atau kesejahteraan individu ( self
interest) dan kesejahteraan kolektif (social interest). Seorang muslim harus
berkerja secara maksimal dan optimal, sehingga tidak hanya dapat mencukupi
dirinya sendiri tetapi juga dapat mencukupi kebutuhan keluarga dan juga
anaknya. Hasil yang dimakan oleh dirinya
sendiri dan keluarganya oleh Allah dihitung sebagai kewajiban sekalipun itu
sebagai kewajiban. Hal ini menunjukan betapa mulyanya harga sebuah produksi
apalagi jika sampai memperkerjakan karyawan yang banyak sehingga mereka dapat
menghidupi keluarganya. Demikian pentingnya usaha dalam mencari nafkah sehingga
Rosulullah menyatakannya bahwa menjadi kewajiban seorang muslim, yang artinya
ketika seorang tidak berusaha untuk menjadi produktif maka selama itu juga ia menanggung dosa
(melalaikan kewajiban yang seharusnya dan yang harus dikerjakan dengan
sabaik-baiknya).
Dampak Dari Pengangguran
Pengangguran sangat berdampak pada
kehidupan perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Pertumbuhan ekonomi
yang menurun, dan bahkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang menurun adalah
salah satu dampak pengangguran. Berikut ini beberapa dampak pengangguran
terhadap perekonomian dan kehidupan sosial
1. Menurunkan
Aktivitas Perekonomian
Pengangguran
menyebabkan turunnya daya beli masyarakat. Daya beli masyarakat yang menurun
menyebabkan turunnya permintaan terhadap barang dan jasa. Hal ini mengakibatkan
para pengusaha dan investor tidak bergairah melakukan perluasan dan pendirian
industri baru sehingga aktivitas perekonomian menjadi turun.
2. Menurunkan
Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Per Kapita
Orang
yang tidak bekerja (menganggur) tidak akan menghasilkan barang dan jasa. Itu
berarti semakin banyak orang yang menganggur maka PDB (Produk Domestik Bruto)
yang dihasilkan akan menurun. PDB yang menurun akan menyebabkan turunnya
pertumbuhan ekonomi sekaligus turunnya pendapatan per kapita.
3. Meningkatkan
Biaya Sosial
Pengangguran
ternyata mengakibatkan meningkatnya biaya sosial. Karena, pengangguran
mengharuskan masyarakat memikul biaya-biaya seperti biaya perawatan pasien yang
stres (depresi) karena menganggur, biaya keamanan dan biaya pengobatan akibat
meningkatnya tidak kriminalitas yang dilakukan oleh penganggur, serta biaya
pemulihan dan renovasi beberapa tempat akibat demonstrasi dan kerusuhan yang
dipicu oleh ketidakpuasan dan kecemburuan sosial para penganggur.
4. Menurunkan
Tingkat Keterampilan
Dengan
menganggur, tingkat keterampilan sesepramg akan menurun. Semakin lama
menganggur, semakin menurun pula tingkat keterampilan seseorang.
5. Menurunkan
Penerimaan Negara
Orang
yang menganggur tidak memiliki penghasilan (pendapatan). Itu berarti semakin
banyak orang yang menganggur, akan semakin turun pula penerimaan negara yang
diperoleh dari pajak penghasilan.
Qardhawi (2005:4-5) telah merinci
dampak buruk pengangguran dalam dua tingkatan, yaitu:
1. Dampak
buruk pengangguran bagi individu:
ü
secara ekonomi tidak memiliki pemasukan
ataupun penghasilan.
ü
secara kesehatan akan mengurangi gerak
tubuh
ü
secara kejiwaan seseorang akan hidup
dalam kekosongan waktu dan akan menimbulkan perasaan dengki dan iri terhadap
keberhasilan orang lain
ü
dampak buruk pengangguran bagi kehidupan
keluargannya.`
2. Dampak
buruk pengangguran bagi masyarakat sekitarnya:
ü
perkembangan ekonomi akan terhambat
karena dalam masyarakat terdapat kerusakan
dan kekurangan daya produksi
ü
dampak terhadap interaksi sosial dimana
seseorang yang pengangguran akan merasa kehilangan semua kemampuannya dan akan
selalu merasa pesimis dalam hidupnya
ü
dampak terhadap moralitas dalam
masyarakat yaitu munculnya kecenderunga atau indikasi untuk berbuat
kriminalitas karena seseorang yang menganggur
pada umumnya akan memiliki banyak kekosongan dan kekhawatiran.
Comments
Post a Comment