pengertian perubahan organisasi,cara mengelola perubahan organisasi,masalah yang terjadi karena perubahan organisasi dan cara mengatasi masalah dalam perubahan organisasi
PENDAHULUAAN
A.
Pengertian Perubahan Organisasi
Perubahan
organisasi adalah kegiatan episodic, artinya perubahan dimulai pda satu titik,
berlanjut melalui serangkaian tahap, dan mencapai puncaka dalam hasil yang
diharapkan oleh mereka yang terlibat berupa perbaikan dari titik awal.
Perubahan memiliki permulaan, pertengahan dan akhir.
Perubahan
organisasi atau pembaharuan organisasi (organizational change) didefinisikan
sebagai pengadopsian ide-ide atau perilaku baru oleh sebuah organisasi.
Organiasasi dirancang untuk beradaptasi dengan peruabahan lingkungan melalui
pembaharuan dan pengembangan internal. Perubahan organisasi dicirikan dengan
berbagai usaha penyesuaian-penyesuaian disain organisasi di waktu mendatang.
Pengelolaan perubahan secara efektif tidak hanya diperlukan bagi kelangsungan
hidup organisasi, tetapi juga sebagai tantangan pengembangan. Dalam pengertian
lain perubahan organisasi merupakan proses penyesuaian desain organisasi
terhadap kondisi lingkungan yang dihadapi. Perubahan dapat bersifat reaktif dan
proaktif. Perubahan reaktif adalah perubahan yang dilakukan sebagai reaksi
terhadap tanda-tanda bahwa perubahan diperlukan melalui pelaksanaan modifikasi
sedikit-demi sedikit untuk menangani masalah tertentu yang timbul. Organisasi
membuat perubahan structural kecil sebagai reaksi terhadap perubahan dalam
lingkungan mikro dan makro. Formulir pendaftaran direvisi untuk mempermudah
calon mahasiswa program pelatihan peningkatan pelayanan pelanggan dilakukan
setiap enam bulan. Perubahan reaktif lebih ditekankan pada perubahan yang
bersifat rutin dengan cakupan yang lebih sempit Perubahan proaktif adalah
perubahan yang diarahkan melalui inovasi structural, kebijakan atau sasaran
baru atau perubahan filosofi operasi yang dengan sengaja didesain dan
diimplementasikan. Proses reaktif dilakukan melalui pelaksanaan berbagai
investasi waktu dan sumber daya lainnya yang berarti untuk mengubah cara-cara
operasi organisasi. Perubahan ini disebut juga sebagai perubahan yang
direncanakan (planned change). Perubahan yang direncanakan adalah : “Usaha
sistematik untuk mendesain ulang suatu organisasi dengan cara yang akan
membantunya melakukan adaptasi pada perubahan yang terjadi dilingkungan
eksternal atau internal “.
Perubahan
organisasi dapat didorong oleh pengaruh yang ditimbulkan dari lingkungan
internal dan eksternal organisasi. Lingkungan internal mempengaruhi organisasi
terhadap cara organisasi melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Lingkungan
eksternal mempengaruhi organisasi terhadap kemampuan organisasi untuk
memperoleh sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi dan
memasarkan berbagai produk. Faktor internal organisasi yang mempengaruhi
terdiri dari faktor sasaran organisasi, strategi dan kebijakan, karyawan dan
teknologi baru yang terserap ke dalam organisasi. Faktor eksternal organisasi
terdiri dari faktor ekonomi, teknologi, sosial, budaya dan politik. Tidak
banyak orang yang suka akan perubahan, namun walau begitu perubahan tidak bisa
dihindarkan. Harus dihadapi. Karena hakikatnya memang seperti itu maka
diperlukan satu manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan
tersebut mengarah pada titik positif.
Tingkat Perubahan Organisasi:
1. Perubahan pada sikap individu dalam organisasi, meliputi : Aspek pengetahuan Sikap/perilaku, Ketidakpuasan (aksi mogok)
2. Perubahan pada tingkat kelompok:
·
Kelompok sebagai media/wahana perubahan
·
Kelompok sebagai sasaran perubahan
·
Kelompok sebagai agen perubahan
3. Perubahan tingkat organisasi:
Adanya promosi kenaikan jabatan seseorang dalam organisasi berimplikasi pada perubahan posisi jabatan di tingkatan bawahnya:
Adanya promosi kenaikan jabatan seseorang dalam organisasi berimplikasi pada perubahan posisi jabatan di tingkatan bawahnya:
·
Perubahan peran dalam aktivitas formal
organisasi
·
Perubahan pada tingkat organisasi
berbeda dan cenderung rumit dibandingkan
dengan perubahan di tingkat individu dan kelompok.
dengan perubahan di tingkat individu dan kelompok.
Organisasi
mengalami perubahan sebagai respon terhadap lingkungannya, Organisasi juga
memerlukan perubahan komponen internalnya sebagai usaha untuk melakukan
adaptasi terhadap perubahan-perubahan dalam lingkungan. Organisasi alami proses
kelahiran, pertumbuhan, kematangan dan akhirnya alami kematian, seperti halnya
semua sistem biologis dan sistem social. Titik pusat perubahan Metode yang
digunakan teknik yg digunakan pola interaksi dan definisi peran perubahan dalam
struktur, proses, tujuan, kebijakan, sistem komunikasi organisasi pengelolaan
pengembangan organisasi,survey umpsn balik.
B. Mengelola Perubahan Organisasi
Perubahan organisasi
merupakan suatu fenomena yang kompleks, sehingga seorang manajer tidak bisa
melakukan suatu perubahan terencana secara langsung namun perlu perubahan
secara sistematis dan logis agar memiliki suatu kesempatan realistic untuk
berhasil.Untuk mengimplementasikan perencanaan untuk perubahan, manajer perlu
memahami langkah-langkah yang efektif dan bagaimana mengatasi penolakan
karyawan terhadap perubahan-perubahan yang efektif dan bagaimana mengatasi
penolakan karyawan terhadap perubahan.
1.
Langkah-langkah dalam Proses Perubahan
Langkah-langkah dalam
proses perubahan menurut Kurt Lwein yang kemudian disebut model Lewin adalah :
·
Unfreezing, yaitu
proses penjelasan perubahan kepada individu yang akan terpengaruh oleh
perubahan agar dapat memahami mengapa perubahan itu diberlakukan.
·
The Change it Self,
yaitu perubahan itu sendiri, yang dimplementasikan / dihilangkan.
·
Refresing, yaitu
proses penekanan dan mendukung perubahan sehingga ia menjadi bagian dari
sistem..
Selain model Lewin,
ada juga langkah lain seperti pendekatan komprehensif terhadap perubahan.
Pendekatan ini memerlukan pandangan sistwm yang memaparkan serangkaian
langkah-langkah spesifik yang sering menyebabkan keberhasilan suatu perubahan.
2. Memahami
Penolakan akan Perubahan
Elemen lain
dari manajemen perubahan yang efektif adalah memahami penolakan yang seringkali
mengikut perubahan. Manajer harus tahu mengapa orang menolak perubahan dan apa
yang bisa mereka lakukan terhadap penolakan. Penolakan sering terjadi karena
ketidak pastian, kepentingan pribadi yang terencana, perbedaan persepsi dan
rasa kehilangan.
·
Ketidak
pastian
Seorang
karyawan mengadakan penolakan terhadap perubahan karena ketidak pastian. Dalam
hal ini, akan muncul kekhawatiran mengenai kemampuan mereka untuk memenuhi
tuntutan pekerjaan baru serta keamanan pekerjaan yang akan terancam.
·
Kepentingan
pribadi yang terancam
Banyak
perubahan yang mengganggu kepentingan pribadi dalam suatu organisasi, sehingga
secara potensial bisa mengurangi kekuasaan atau pengaruh mereka dalam
organisasi.
·
Perbedaan
persepsi
Persepsi yang
berbeda mengakibatkan seseorang bisa menolak perubahan bahkan tak jarang
perbedaan persepsi ini mengakibatkan kerjasama antara manajer dan karyawan bisa
kompleks.
·
Rasa
kehilangan
Rasa
kehilangan terhadap sesuatu yang dimiliki bisa membuat seseorang menolak perubahan
yang terjadi. Sebagai contoh dalam sebuah organisasi akan terjadi
perubahan, tapi perubahan itu bisa membuat dia kehilangan kekuasaan, status,
dan keamanan kerja sehingga kemungkinan untuk menolak perubahan itu terjadi.
3. Mengatasi
Penolakan Terhadap Perubahan
Seorang manajer
seharusnya tidak menyerah dalam menghadapi penolakan terhadap perubahan, tetapi
melakukan teknik, antara lain :
·
Partisipasi
Partisipasi merupakan
teknik yang paling efektif untuk mengatasi penolakan terhadap perubahan.
Karyawan yang berpartisipasi dalam perencanaan dan berpartisipasi dalam
menerapkan suatu perubahan lebih dapat memahami alasan dari perubahan tersebut.
Masalah ketidak pastian dapat dikurangi dari kepentingan pribadi dan hubungan
sosial lebih tidak terancam.
·
Pendidikan dan
komunikasi
Mendidik karyawan
mengenai kebutuhan akan perubahan dan hasil yang diharapkan dari suatu
perubahan yang tertunda seharusnya mengurangi penolakan mereka. Komunikasi yang
terbuka juga diharapkan mampu mengurangi penolakan selama proses perubahan
serta ketidak pastian dapat diminimalkan.
·
Fasilitas
Prosedur fasilitas
juga sangat penting saat membuat sebuah perubahan. Ketika mengumumkan sebuah
perubahan di muka umum dan memberikan waktu bagi orang untuk melakukan
penyesuaian terhadap cara baru dalam melakukan berbagai hal bisa membantu
mengurangi penolakan terhadap perubahan.
·
Analisis Bidang
Kekuatan
Walaupun analisis
bidang kekuatan mungkin terdengar seperti sesuatu yang berasal dari sebuah film
star trek, namun analisis ini juga dapat membantu mengatasi penolakan terhadap
perubahan. Dalam setiap situasi perubahan, berbagai kekuatan bertindak
mendukung dan menolak perubahan. Oleh sebab itu, manajer mulai mengumpulkan
setiap rangkaian kekuatan dan berusaha untuk mempengaruhi keseimbangan agar
kekuatan yang memfasilitasi perubahan lebih besar dari pada kekuatan yang
menolak perubahan
.
C. Pengendalian Perubahan organisasi
Pengendalian merupakan
salah satu bagian dari manajemen. Pengendalian dilakukan dengan tujuan supaya
apa yang telah direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat
mencapai target maupun tujuan yang ingin dicapai.Pengendalian memang merupakan
salah satu tugas dari manager. Satu hal yangharus dipahami, bahwa pengendalian
dan pengawasan adalah berbeda karenapengawasan merupakan bagian dari
pengendalian. Bila pengendalian dilakkan dengan disertai pelurusan (tindakan
korektif), maka pengawasan adalah pemeriksaan di lapangan yang dilakukan pada
periode tertentu secara berulang kali.
Asas-asas Pengendalian
1. Asas Tercapainya Tujuan
Pengendalian harus ditujukan ke arah
tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari
rencana.
2. Asas Efisiensi
Pengendalian itu efisisen, jika dapat
menghindari dari penyimpangan rencana.
3. Asas Tanggung Jawab Pengendalian
Pengendalian hanya dapat dilaksanakan
jika manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana.
4. Asas Pengendalian Terhadap Masa Depan
Pengendalian yang efektif harus
ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan-penyimapngan yang akan terjadi, baik
pada waktu sekarang maupun masa yangakan datang.
5. Asas Pengendalian Langsung
Teknik control yang paling efektif ialah
mengusahakan adanya bawahan yang berkualitas baik.
6. Asas Refleksi Rencana
Pengendalian harus disusun dengan baik,
sehingga dapat mencermin kankarakter dan susunan rencana.
7. Asas Penyesuaian Dengan Organisasi
Pengendalian harus dilakukan sesuai
dengan struktur organisasi.
8. Asas Pengendalian Individual
Pengendalian dan teknik pengendalian
harus sesuai dengan kebutuhan manajer.
9. Asas Standar
Pengendalian yang efektif dan
efisien memerlukan standar yang tepat yang akandipergunakan sebagai tolok
ukur pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.
10. Asas
Pengendalian Terhadap Strategi
Pengendalian yang efektif dan efisien
memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faltor-faktor
yang strategis dalam perusahaan.
11. Asas
Pengecualian
Efisiensi dalam pengendalian membutuhkan
adanya perhatian yang ditujukan terhadap factor pengecualian dalam keadaan
tertentu atau tidak sama.
12. Asas Pengendalian
Fleksibel
Pengendalian harus luwes untuk
menghindari kegagalan pelaksanaan rencana
13. Asas Peninjauan
Kembali
Sistem pengendalian harus ditinjau
berkali-kali, agar system yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14. Asas
Tindakan
Pengendalian dapat dilakukan, apabila
ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana,
organisasi,staffing, dan actuating
Jenis-Jenis Pengendalian
1.
Pengendalian Karyawan
Ditujukan
kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan karyawan
2. Pengendalian Keuangan
Ditujukan kepada hal-hal yang menyangkut
keuangan.
3. Pengendalian Produksi
Ditujukan untuk mengetahui kualitas dan
kuantitas produksi yang dihasilkan,apakah sesuai dengan standar atau
rencananya.
4. Pengendalian Waktu
Ditujukan kepada penggunaan waktu,
apakah waktu untuk mengerjakan suatupekerjaan sesuai atau tidak.
5. Pengendalian Teknis
Ditujukan kepada hal-hal yang bersifat
fisik, yang berhubungan dengan tindakandan teknis pelaksanaan.
6. Pengendalian Kebijaksanaan
Ditujukan untuk mengetahui dan menilai,
apakah kebijaksanaan organisasi telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah
digariskan.
7. Pengendalian Penjualan
Ditujukan untuk mengetahui, apakah
produksi atau jasa yang dihasilkan terjualsesuai dengan target
yang ditetapkan.
8. Pengendalian Inventaris
Ditujukan untuk mengetahui, apakah
inventaris perusahaan masih ada semuanya atau ada yang hilang.
9. Pengendalian Pemeliharaan
Ditujukan untuk mengetahui apakah
inventaris kantor dipelihara dengan baikatau tidak, jika rusak apakah masih bisa diperbaiki
atau tidak.
10. Internal
Control
Pengendalian yang dilakukan oleh seorang
atasan kepada bawahannya.
11. External
Control
Pengendalian yang dilakukan oleh pihak
luar.
12. Formal
Control
Pemeriksaan yang dilakukan oleh instansi
atau pejabat resmi dan dapatdilakukan secara intern maupun ekstern.
13. Informal
Control
Penilaian yang dilakukan oleh masyarakat
atau konsumen, baik langsung maupun tidak langsung
Proses
Pengendalian Dalam Organisasi
Perusahaan
(Organisasi) ibarat manusia yang perlu makan, bekerja, dan
istirahat secara teratur dan terkendali. Jika metabolisme tubuhnya tidak
baik, ia akan berpotensi menderita berbagai penyakit. Orang yang sukses adalah
orang yang terorganisasi dengan baik, memiliki tujuan hidup, memiliki
pengendalian diri, dan cinta dalam hatinya.Itu juga berlaku untuk perusahaan
(organisasi). Untuk mencapai kinerja optimal,perusahaan (Organisasi) haruslah
terorganisasi dengan baik, memiliki Visi dan Misi, memiliki daya Pengendalian
Manajemen, dan mencintai pengetahuan yang bisa membantu orang untuk menciptakan
kondisi yang kondusif untuk proses pengambilan keputusan yang tepat. Salah satu
pengetahuan itu adalah Sistem Pengendalian Manajemen. Proses Pengendalian
Manajemen yang baik sebenarnya formal, namun sifat pengendalian informal masih
banyak terjadi. Pengendalian Manajemen formal merupakan tahap-tahap yang disaling
berkaitan satu sama lain, terdiri dari proses :
1. Pemrograman
(Programming)
Dalam tahap ini perusahaan menentukan
program-program yang dilaksanakan dan memperkirakan sumber daya yang akan
dialokasikan untuk setiap program yang telah ditentukan.
2. Penganggaran (Budgeting)
Pada tahap penganggaran ini program yang
telah direncanakan secara terperinci dinyatakan dalam satuan moneter untuk
suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Anggaran ini berdasarkan pada kumpulan anggaran-anggaran dari pusat
pertanggung jawaban.
3. Operasi dan Akuntansi (Operation
and Accounting)
Dalam tahap ini telah dilaksanakan
pencatatan mengenai berbagai sumber daya yang digunakan dan penerimaan-penerimaan
yang dihasilkan. Catatan dan biaya-biaya tersebut digolongkan sesuai dengan
program yang telah ditetapkan pusat-pusat tanggung jawabnya. Penggolongan yang
sesuai program dipakai sebagai dasar untuk pemrograman dimasa yang akan datang,
sedangkan penggolongan yang sesuai dengan pusat tanggung jawab digunakan untuk
mengukur kinerja para manajer.
4. Laporan dan Analisis (Reporting
and Analysis)
Tahap ini merupakan tahapan yang paling
penting, karena menutup suatu siklus dariproses Pengendalian Manajemen agar data
untuk proses pertanggung jawaban akuntansi dapat dikumpulkan. Analisis laporan
manajemen antara lain dapat berupa :
ü Perlu tidaknya strategi perusahaan diperiksa kembali
ü Perlu
tidaknya dilakukan penghapusan, penambahan, atau pengubahan program
ditahun yang akan datang.
ü Dari analisis penyimpangan dapat disimpulkan perlunya diadakan perubahan anggaran,
apabila sudah tidak realitas.
ü Dari
laporan-laporan dapat diambil kesimpulan perlu
adanya perbaikan-perbaikan untuk masalah yang tidak dapat
diantisipasi.
Jadi secara konseptual Sistem
Pengendalian Manajemen diartikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari
beberapa subsistem yang saling berhubungan, yakni pemprograman, pengenggaran,
pelaporan akuntabilitas dan kinerja serta sistem pendelegasian wewenang untuk
membantu manajemen suatu organisasi /perusahaan untuk mencapai tujuannya
melalui strategi tertentu secara efisien dan efektif.
Langkah-langkah proses
pengendalian :
1. Menentukan standar-standar yang akan digunakan sebagai dasar pengendalian.
2. Mengukur pelaksanaan
atau hasil yang telah dicapai.
3. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan
jika ada.
4. Melakukan
tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan
dan tujuan sesuai dengan rencana
Cara-cara pengendalian
:
1. Pengawasan
langsung, pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh
seorang manajer.
2. Pengawasan
tidak langsung, pengawasan jarak jauh dengan melalui
laporan oleh bawahan baik secara lisan maupun tulisan.
3. Pengawasan
berdasarkan kondisi tertentu, pengendalian yang dikhususkan untuk
kesalahan-kesalahan atau kondisi tertentu, dilakukan dengan carakombinasi
langsung dan tidak langsung
Fungsi pengendalian organisasi
Fungsi perencanaan dan pengendalian
mempunyai peranan yang sangat besar dalam pencapaian tujuan perusahaan. Oleh
karena itu, manajemen perusahaan harus benar-benar dapat merencanakan dan
mengendalikan aktivitas-aktivitas perusahaan dengan cara tertentu yang erat
kaitannya dengan kelangsungan hidup perusahaan. Pihak manajemen harus
menetapkan tujuan-tujuan yang relistis dan memikirkan strategi-strategi yang
efisien guna pencapaian tujuan tersebut
D.
Masalah dalam perubahan organisasi
Tidak
banyak orang yang suka akan perubahan, namun walau begitu perubahan tidak bisa dihindarkan.
Harus dihadapi. Karena hakikatnya memang seperti itu maka diperlukan satu
manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan tersebut mengarah
pada titik positif.
Banyak
masalah yang bisa terjadi ketika perubahan akan dilakukan. Masalah yang paling
sering dan menonjol adalah “masalah atas perubahan itu sendiri”. Istilah yang
sangat populer dalam manajemen adalah resistensi perubahan (resistance to
change). masalah atas perubahan tidak selalu negatif karena justru karena
adanya penolakan tersebut maka perubahan tidak bisa dilakukan secara
sembarangan.
Masalah
atas perubahan tidak selalu muncul dipermukaan dalam bentuk yang standar.
masalah bisa jelas kelihatan (eksplisit) dan segera, misalnya mengajukan
protes, mengancam mogok, demonstrasi, dan sejenisnya; atau bisa juga tersirat
(implisit), dan lambat laun, misalnya loyalitas pada organisasi berkurang,
motivasi kerja menurun, kesalahan kerja meningkat, tingkat absensi meningkat,
dan lain sebagainya.
Untuk
keperluan analitis, dapat dikategorikan sumber penolakan atas perubahan, yaitu
masalah yang dilakukan oleh individual dan yang dilakukan oleh kelompok atau
organisasional.
1. Penolakan
individual
Karena persoalan kepribadian, persepsi,
dan kebutuhan, maka individu punya potensi sebagai sumber penolakan atas
perubahan. Penolakan individual dapat terjadi karena hal-hal dibawah ini :
a. Kebiasaan.
Kebiasaan merupakan pola tingkah laku yang kita tampilkan secara berulang-ulang
sepanjang hidup kita. Kita lakukan itu, karena kita merasa nyaman, menyenangkan.
Bangun pukul 5 pagi, ke kantor pukul 7, bekerja, dan pulang pukul 4 sore.
Istirahat, nonton TV, dan tidur pukul 10 malam. Begitu terus kita lakukan
sehingga terbentuk satu pola kehidupan sehari-hari. Jika perubahan berpengaruh
besar terhadap pola kehidupan tadi maka muncul mekanisme diri, yaitu penolakan.
b. Rasa
aman. Jika kondisi sekarang sudah memberikan rasa aman, dan kita memiliki
kebutuhan akan rasa aman relatif tinggi, maka potensi menolak perubahan pun
besar. Mengubah cara kerja padat karya ke padat modal memunculkan rasa tidak
aman bagi para pegawai.
c. Faktor
ekonomi. Faktor lain sebagai sumber penolakan atas perubahan adalah soal
menurun-nya pendapatan. Pegawai menolak konsep 5 hari kerja karena akan
kehilangan upah lembur.
d. Takut
akan sesuatu yang tidak diketahui. Sebagian besar perubahan tidak mudah
diprediksi hasilnya. Oleh karena itu muncul ketidak pastian dan keraguraguan.
Kalau kondisi sekarang sudah pasti dan kondisi nanti setelah perubahan belum
pasti, maka orang akan cenderung memilih kondisi sekarang dan menolak
perubahan.
e. Persepsi. Persepsi
cara pandang individu terhadap dunia sekitarnya. Cara pandang ini mempengaruhi
sikap. Pada awalnya program keluarga berencana banyak ditolak oleh masyarakat,
karena banyak yang memandang program ini bertentangan dengan ajaran agama,
sehingga menimbulkan sikap negatif.
2. Penolakan
Organisasional
Organisasi, pada hakekatnya memang
konservatif. Secara aktif mereka menolak perubahan. Misalnya saja, organisasi
pendidikan yang mengenal-kan doktrin keterbukaan dalam menghadapi tantangan
ternyata merupakan lembaga yang paling sulit berubah. Sistem pendidikan yang
sekarang berjalan di sekolah-sekolah hampir dipastikan relatif sama dengan apa
yang terjadi dua puluh lima tahun yang lalu, atau bahkan lebih. Begitu pula
sebagian besar organisasi bisnis. Terdapat enam sumber penolakan atas perubahan
yaitu:
a. Inersia
struktural. Artinya penolakan yang terstrukur. Organisasi, lengkap dengan
tujuan, struktur, aturan main, uraian tugas, disiplin, dan lain sebagainya
menghasil- kan stabilitas. Jika perubahan dilakukan, maka besar kemungkinan
stabilitas terganggu.
b. Fokus
perubahan berdampak luas. Perubahan dalam organisasi tidak mungkin terjadi
hanya difokuskan pada satu bagian saja karena organisasi merupakan suatu sistem.
Jika satu bagian dubah maka bagian lain pun terpengaruh olehnya. Jika manajemen
mengubah proses kerja dengan teknologi baru tanpa mengubah struktur
organisasinya, maka perubahan sulit berjalan lancar.
c. Inersia
kelompok kerja. Walau ketika individu mau mengubah perilakunya, norma kelompok
punya potensi untuk menghalanginya. Sebagai anggota serikat pekerja, walau
sebagai pribadi kita setuju atas suatu perubahan, namun jika perubahan itu
tidak sesuai dengan norma serikat kerja, maka dukungan individual menjadi
lemah.
d. Ancaman
terhadap keahlian. Perubahan dalam pola organisasional bisa mengancam keakhlian
kelompok kerja tertentu. Misalnya, penggunaan komputer untuk merancang suatu
desain, mengancam kedudukan para juru gambar.
e. Ancaman
terhadap hubungan kekuasaan yang telah mapan. Mengintroduksi sistem pengambilan
keputusan partisipatif seringkali bisa dipandang sebagai ancaman kewenangan
para penyelia dan manajer tingkat menengah.
f. Ancaman
terhadap alokasi sumberdaya. Kelompok-kelompok dalam organisasi yang
mengendalikan sumber daya dengan jumlah relatif besar sering melihat perubahan
organisasi sebagai ancaman bagi mereka.
Strategi
Mengatasi Masalah atau Penolakan
Coch
dan French Jr. mengusulkan ada enam taktik yang bisa dipakai untuk mengatasi
resistensi perubahan yaitu:
1. Pendidikan
dan Komunikasi. Berikan penjelasan secara tuntas tentang latar belakang,
tujuan, akibat, dari diadakannya perubahan kepada semua pihak. Komunikasikan dalam
berbagai macam bentuk. Ceramah, diskusi, laporan, presentasi, dan bentuk-bentuk
lainnya.
2. Partisipasi.
Ajak serta semua pihak untuk mengambil keputusan. Pimpinan hanya bertindak
sebagai fasilitator dan motivator. Biarkan anggota organisasi yang mengambil
keputusan.
3. Memberikan
kemudahan dan dukungan. Jika pegawai takut atau cemas, lakukan konsultasi atau
bahkan terapi. Beri pelatihan-pelatihan. Memang memakan waktu, namun akan
mengurangi tingkat penolakan.
4. Negosiasi.
Cara lain yang juga bisa dilakukan adalah melakukan negosiasi dengan
pihak-pihak yang menentang perubahan. Cara ini bisa dilakukan jika yang
menentang mempunyai kekuatan yang tidak kecil. Misalnya dengan serikat pekerja.
Tawarkan alternatif yang bisa memenuhi keinginan mereka.
5. Manipulasi
dan Kooptasi. Manipulasi adalah menutupi kondisi yang sesungguhnya. Misalnya
memlintir (twisting) fakta agar tampak lebih menarik, tidak mengutarakan hal
yang negatif, sebarkan rumor, dan lain sebagainya. Kooptasi dilakukan dengan
cara memberikan kedudukan penting kepada pimpinan penentang perubahan dalam
mengambil keputusan.
6. Paksaan.
Taktik terakhir adalah paksaan. Berikan ancaman dan jatuhkan hukuman bagi
siapapun yang menentang dilakukannya perubahan.
baca juga : kekuasaan dalam organisasi
KESIMPULAN
Dalam
kehidupan manusia, perubahan tidak dapat dihindari. Dimulai oleh dunia
usaha yang lebih dulu menyadari pentingnya perubahan bagi peningkatan
kualitas produksi yang dihasilkan, sampai ke administrasi pemerintahan.
Berbagai upaya dan pendekatan telah dilakukan untuk memecahkan masalah
yang timbul akibat adanya perubahan. Oleh karena perubahan memang selalu
terjadi dan pasti akan selalu terjadi, pimpinan organisasi baik organisasi
pemerintah maupun non-pemerintah disamping harus memiliki kepekaan terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi diluar organisasi yang dipimpinnya dan mampu
memperhitungkan dan mengakomodasikan dampak dari perubahan-perubahan yang
terjadi itu, mutlak perlu pula untuk mempunyai keterampilan dan keberanian
untuk melakukan perubahan didalam organisasi demi peningkatan kemampuan
organisasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Oleh
karena itu untuk menghadapi perubahan kita perlu melakukam manajemen perubahan
yang berarti upaya yang dilakukan untuk mengelola akibat-akibat yang
ditimbulkan karena terjadinya perubahan dalam organisasi.
Tidak
banyak orang yang suka akan perubahan, namun walau begitu perubahan tidak bisa
dihindarkan. Harus dihadapi. Karena hakikatnya memang seperti itu maka
diperlukan satu manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan
tersebut mengarah pada titik positif.
DAFTAR
PUSTAKA
Alamsyah, Kamal. 2004. Perilaku Organisasi
dalam Birokrasi Pemerintahan. Pustaka Raja. Yogyakarta
Arsyad, Azhar. 2003. Pokok Pokok Manajemen.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Siagian, Sondang P.
1997. Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. PT Toko Gunung
Agung. Jakarta
Suganda, Dann.
1986. Manajemen Administrasi. Sinar Baru. Bandung
Utomo, Warsito.
2007. Administrasi Publik Baru Indonesia. Pustaka Pelajar. Jakarta
Wicaksono, Kristian
Widya. 2006. Administrasi dan Birokrasi Pemerintah. Graha Ilmu.Yogyakarta
Comments
Post a Comment